Rabu, 08 Januari 2014

Yang Terputus Dan Terhempas



Al-Quran adalah kalamullah. Mustahil bagi manusia membuat yang serupa. Al-Quran adalah tali Allah yang kuat. Barangsiapa yang berpegang teguh kepadanya niscaya selamat. Sebaliknya, yang berpaling akan binasa. Segala tali selainnya mudah putus, dan segala jalan selainnya buntu. Al-Quran adalah taman para ulama dan kebun orang-orang arif dalam kehidupan mereka.
Naasnya, diantara manusia banyak yang salah dalam memperlakukan mukjizat terbesar ini. Beragam dan bertingkat kekeliruan manusia terhadapnya, seperti itu pula ketersesatan dan kerusakannya.
Bagaimana Bisa Menolaknya
Sebagian manusia tidak yakin bahwa al-Quran diturunkan Allah. Disangkanya al-Quran itu karangan Muhammad saw saja yang tak mutlak kebenarannya. Mereka mengekor perkataan misionaris Nasrani, John Takly, “Al-Quran bukanlah sesuatu yang baru. Sedangkan yang baru di dalam Islam juga bukan sesuatu yang benar.”
Padahal, bagaimana mereka mengingkari al-Quran, sementara tak satu pun celah yang bisa di gunakan untuk membantahnya. Allah swt berfirman, “Tidaklah mungkin al-Quran ini dibuat oleh selain Allah, akan tetapi (al-Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam.” (Q.S. Yunus : 37)
Enggan dari Pintu Pertama
Membaca adalah pintu untuk memahami.Maka para salaf menjadikan membaca al-Quran sebagai kebiasaan hariannya. Dalam Minhajul Qashidin disebutkan, Utsman bin Affan pernah membaca Al-Quran (seluruhnya) dalam satu rakaat witirnya, sedangkan Imam asy-Syafii pernah mengkhatamkannya sebanyak enam puluh kali pada bulan Ramadhan. Ibnu Abba berkata , “Barang siapa waktunya longgar, hendaklah ia mempergunakan untuk membaca al-Quran, agar dia beruntung mendapatkan pahala yang banyak.”
Sedangkan di zaman ini, membaca al-Quran tak lagi di anggap penting. Dikalahkan membaca koran, novel, atau bacaan-bacaan
 lainnya. Juga oleh nyanyian. Padahal, apa yang bisa diambil dari nyanyian, kecuali kesia-siaan yang menyesatkan. Menurut Imam Ahmad dan Imam Malik, orang fasik saja yang memiliki kebiasaan demikian.
Kontradiksi lainnya, A-Quran dibaca hanya saat ada kematian saja atau peringatan yang berkaitan dengannya saja. Padahal al-Quran diturunkan sebagai petunjuk jalan kehidupan, sedang orang yang sudah mati tak bisa mengamalkannya.
Menutup Mata terhadap Makna
Tingkat selanjutnya adalah orang-orang yang sudah mau membaca al-Quran atau bahkan telah menjadikannya sebagai kebiasaan. Sungguh, yang demikian sudah merupakan amal yang sangat utama jika memang niatnya ikhlas karena Allah swt , Rasulullah bersabda,
“Orang yang pandai membaca Al-Quran itu akan bersama para Rasul yang mulia. Adapun orang yang lemah dan terlekat-lekat ketika membaca Al-Quran dan dia memang berkeinginan untuk membaca al-Quran dan dia memang berkeinginan untuk membaca al-Quran, maka dia berhak mendapat dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun tentunya, tuntutan sebenarnya tidak sampai disitu saja. Karena semua yang ada di dalam al-Quran mengandung keharusan untuk diamalkan. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala besar.” (Q.S. Al-Israa’ : 9)
Untuk itu landasan utamanya adalah pemahaman, dan di sinilah urgensi dari keharusan mentadaburi al-Quran. Para salaf yang shalih, setiap kali ini membaca ayat-ayat yang memberikan kabar gembira tentang surga, mereka menangis karena merindukannya. Dan jika membaca ayat-ayat yang mengingatkan tentang ayat-ayat yang mengingatkan tentang azab neraka, mereka ketakutan seakan-akan neraka Jahanam ada di antara telinga mereka. Itu semua tidak lain karena pemahaman yang mendalam terhadap apa yang dibacanya.
Sedangkan bagi orang yang membacanya al-Quran demi memenangi perlombaan atau tujuan duniawi lainnya, kebiasaan mereka tak lebih dari kebagusan suara dan lagu-lagunya, Tak sampai pada pemahaman kandungan ayat-ayat yang dibacanya, apalagi mengambil manfaat darinya. Bahkan boleh jadi, amal mereka justru bertentangan dengan al-Quran. Seperti lonceng yang bergantung di leher onta, bunyinya nyaring namun tidak menjadikan onta itu tambah berharga. Naudzubillah!

Meninggalkan Begitu Saja
Ada lagi orang yang telah membaca dan memahami kandungan Al-Quran, namun ia meninggalkannya begitu saja. Perintahnya ditinggalkan, larangannya justru dikerjakan. Semua kabar gembira dan ancaman, diabaikan begitu saja.
Mereka layaknya hamba yang menerima surat perintah dari tuannya, membaca dan memahaminya, lalu mengabaikannya. Merekalah hamba yang membangkang dan durhaka terhadap tuannya.
Menukar dengan Dunia
Ada pula golongan yang menyalahgunkan al-Quran. Al-Quran secara fisik diperlakukan sebagai jimat, atau ayat-ayatnya dipakai sebagai rajah. Sungguh demikian bisa menjerumuskan pelakunya kepada kesyirikan.
Yang lainnya pandai tentang Al-Quran namun menyeleweng. Di antara mereka bahkan menggunakan sebagian ayat demi mendukung kemungkaran dan memerangi kebenaran, membuat senang orang-orang kafir dan para pembantunya. Allah swt berfirman,
“ Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah adalah orang-orang yang kafir.” (Q.S. Al-Maidah : 44)
Begitulah alamat orang yang terhempas lantaran jauh dari pegangan, dan terputus dari kemuliaan lantaran menyalahgunakan. Wallahu a’alam bishshawab

By @destya11 in twitter

Bukan Hanya Tilawah

Berapa lama Anda mengkhatamkan bacaan al-Quran? Sebulan sekali? Sebulan dua kali? Atau bahkan sepuluh kali? Selamat untuk Anda yang sudah membiasakan diri dengan sunnah Nabi saw yang telah dilestarikan oleh para salaf dengan sebaik-baiknya ini.

Tetapi tunggu dulu! Sunnah Nabi yang telah dilestarikan “Kalamullah” tidak hanya tilawah minimal sebulan sekali. Tidak. Adalah para sahabat sangat perhatian kepada pemahaman mereka terha
dap ayat-ayat Allah.
Diriwayatkan bahwa untuk mempelajari surat Al-Baqarah saja, Al-Faruq Umar bin Khatab perlu waktu 12 bulan. Tentu ini bukan karena kurang berakalnya Amirul Mukminin ini. Tapi lebih dikarenakan beliau berpindah dari maksimal 10 ayat sampai ia benar-benar memahami dengan baik dan mengamalkannya.
Abdullah bin Mas’ud berkata, “Apabila salah seorang dari kami telah mempelajari 10 ayat, ia tidak akan melanjutkan ke ayat-ayat berikutnya sampai benar-benar mengerti maknanya dan mengamalkannya.”
Jika hari ini banyaknya lembaran mushhaf yang kita baca tidak ‘ngefek’, membawa pengaruh yang signifikan terhadap keimanan kita, itu adalah salah satunya karena  bacaan kita tidak disertai dengan tadabbur, upaya untuk memahaminya dengan sebaik-baiknya.
“Tidak mungkin Al-Quran akan di amalkan oleh seseorang  tanpa mentadabburinya terlebih dahulu”(Imam asy Syaukani)

Padahal kata tabi’in agung, Hasan al-Bahsri “Al-Quran diturunkan untuk di tadabburilah dan diamalkan, maka baca dan tadabburi ia (sehingga kamu dapat manfaat).”
Maknanya, kalau kita merasa cukup sekedar membaca tanpa mentadabburinya berarti kita masih belum melaksanakan kewajiban terhadap Al-Quran. Bukan berarti tilawah tidak penting, tetapi harus ada muwazanah, keseimbangan, antara tilawah dan tadabbur, sebagaimana diwariskan para salaf.

Kenapa Mesti Tadabbur?
Selain bertolak dari atsar Hasan al-Bashri di atas, masih ada banyak faktor lain yang mengantarkan kita kepada kepada kesimpulan Tadabbur, harus itu! Di antaranya, Pertama, karena Allah berfirman,
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Q.S. An-Nisa : 82)
Kedua, karena kita manusia yang berakal. Manusia yang berakal yang tahu bahwa al-Quran adalah pedoman hidupnya pasti berusaha untuk memahaminya dengan sebaik-baiknya. Karena hanya dengan itulah ia akan mengerti pesan dari Allah dan petunjuk dari-Nya yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari jika ia mengharapkan al-Falah, kebahagiaan hidup dan di akhirat.
Imam asy-Syaukani bertutur, “Tak mungkin al-Quran akan diamalkan oleh seseorang tanpa metadabburinya terlebih dahulu”
Ketiga, karena kita ingin mendapatkan sakinah dan rahmat dari Allah. Adalah Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah dari rumah-ruah Allah dalam rangka membaca dan tadarus Al-Quran kecuali mereka dianugerahi ketenangan, diliputi rahmat, dikerumuni malaikat, dan di banggakan Allah di hadapkan para malaikat.”
Siapa diantara kita yang mengharapkan kesengsaraan hidup? Siapa pula yang tidak ingin dikasihani oleh Allah. Nah, menurut hadist ini, keadaannya bisa kita raih dengan membaca dan mengkaji (baca:mentadabburi) mukjizat Nabi yang abadi, al-Quran yang suci.

Tak Harus Menunggu
Tadabbur yang terbaik adalah membaca kitab-kitab tafsir yang mu’tabar, kitab-kitab di akui oleh ulama ahlusunnah seperti Tafsir ath-Thabari, Tafsir al-Qurthubi, atau yang paling ringkas namun memadai, Tafsiran Qur’anil Azhim yang terkenal dengan tafsir Ibnu Katsir.Sayangnya kitab-kitab itu kebanyakan berbahasa Arab alias belum banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tafsir Ibnu Katsir sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, meskipun ringkasannya. Bukankah tak ada rotan akar pun jadi?
Baik sekali jika kita bisa berbahasa Arab. Tetapi jika belum dan tidak ada kata terlambat untuk mempelajari bahasa Arab mestinya kita mengejar kitab tafsir yang sudah diterjemahkan itu walau sampai ke ujung negeri dengan biaya yang relatif mahal, untuk selanjutnya kita nikmati apa yang disajikan disana. Tentunya sambil mengupayakan belajara bahasa Arab. Sebab bagaimana pun, penjelasan para mufassir akan benar-benar kita pahami dengan baik saat kita membaca versi aslinya. Ada hal-hal yang tak dapat diterjemahkan dan hanya bisa dirasakan. Wallahul musta’an Yuk, Kita sama-sama belajar... ^_^
By (@destya11 in Twitter)



Selasa, 07 Januari 2014

Berani Dengan Benar

Dalam pandangan Islam seorang mukmin itu hanya ada dua jenis,  qawiy atau kuat dan dha’if atau lemah. Ini berlaku untuk umum, laki-laki maupun perempuan. Dan adalah Allah lebih mencintai orang mukmin yang kuat daripada yang lemah. Maka berbahagialah orang-orang yang beriman yang kuat.
Tetapi tunggu dulu, yang di maksud kuat di sini bukanlah kekuatan jasmani. Memang kekuatan jasmani penting, tetapi para pakar hadist sepakat bahwa orang beriman yang lebih di cintai Allah adalah orang yang kuat dalam berpegang teguh kepada tali Allah dan asanya yang utamanya adalah kehidupan di akhirat. Orang seperti inilah orang yang kuat. Orang yang mampu bertahan saat menghadapi ujian terberat dan tak pernah terbayangkan dalam kehidupannya. Orang seperti inilah yang berani menanggug susahnya hidup, pedih-perihnya perjuangan, dan segala resiko duniawai saat melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Yang Kuat versi an-Nawawi
Imam an-Nawawi saat mensyarah “Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada seoarang mukmin yang lemah..” mengatakan, “Yang dimaksud dengan kekuatan  di sini adalah keteguhan jiwa dan tertautnya hati pada urusan akhirat. Maka seseorang yang memiliki sifat yang demikian akan menjadi orang yang paling berani menghadapi musuh di medan jihad, paling cepat menyahut seruan jihad dan segera berangkat ke medan laga. Orang dengan sifat seperti ini juga akan tegar dan sabar saat beramar ma’ruf nahyi munkar, rela menanggung kesulitan di jalan Allah senantiasa bersemangat untuk menunaikan shalat, shiyam, dzikir, dan berbagai bentuk ibadah lainnya. Ia akan menjadi orang yang paling rajin dan benar-benar menjaga semuanya.”
Berani Berkeyakinan
Aneh jika ada seoarang muslim tidak berani alias takut berkeyakinan. Padahal keyakinan seseorang tidak dapat diketahui oleh orang lain. Pun tidak ada orang yang bisa memaksa orang lain dalam berkeyakinan. Paling-paling yang bisa dilakukan adalah mempengaruhi. Itu saja.
Keberanian dalam berkeyakinan-meyakini kebenaran Islam dan semua yang di ajarkan oleh Rasulullah saw ini tidak bisa bisa di tawar dan tidak ada rukhshah atau keringanan. Kalau pun di bilang ada, itu sekedar tampak luarnya saja. Seperti sahabat Ammar bin Yasir yang mendapatkan keringanan untuk mengucapkan kata-kata kufur, tetapi hati tempat bersemayamnya berkeyakinan yang benar. Allah berfirman, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (Q.S. an-Nahl : 106)
Berani Berkata
Keberanian berkata-kata dimulai keberanian mengikrarkan bahwa tiada yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa dalam beribadah tersebut hanya mengikuti tata cara yang di ajarkan Rasulullah. Sekarang di sini, di Indonesia, mengikrarkan dua kalimat syahadat tidak banyak menimbulkan reaksi dari orang-orang sekitar  (mungkin karena banyak yang berikrar sementara ia tidak tahu konsekuensinya). Tetapi dulu Jazirah Arab, untuk mengikrarkannya benar-benar diperlukan keteguhan hati dan keberanian prima. Kita bisa membaca apa yang di alami oleh Bilal bin Rabah, keluarga Yasir, Mush’ab bin Umair, dan sederet sahabat lain yang mesti membayar mahal ikrar mereka.
Selanjutkan adalah keberanian untuk mengajak orang lain berpegang teguh kepada Islam. Untuk ini selain diperlukan keberanian juga diperlukan bekal ilmu yang memadai. Ilmu tentang Islam, Ilmu tentang bagaimana cara menyampaikannya, dan ilmu tentang orang-orang yang di harapkan menerima Islam. Jangan sampai terjadi karena kita tidak mengerti bagaimana cara terbaik mengajak suatu masyarakat untuk berpegang teguh kepada keseluruhan Islam, mereka justru menolak atau bahkan menghalanginya ; padahal mereka adalah orang-orang Islam. Jika demikian adanya berarti mudarat lebih besar daripada manfaat. Dan Islam datang untuk menegasikan mudarat sama sekali, setidaknya meminimalkannya.
Berani Berbuat
Seperti para sahabat yang turut serta dalam perang Badar, meski mereka tahu bahwa jumlah mereka kurang dari sepertiga jumlah musuh, mereka pantang mundur dan menyerah. Mereka yakin, jika mereka melaksanakan perintah Allah dengan sebaik-baiknya Allah tidak akan menyia-nyiakan hidup mereka. Mereka pun tahu, jika mereka terbunuh di medan laga, toh itu merupakan anugrah teragung yang mereka terima. Seperti merekalah mestinya kita semua memiliki keberanian dalam melaksanakan semua perintah Allah. Masih khawatir dengan hari esok??? Buruk sekali prasangka kita kepada Allah, “Maka apakah prasangkamu terhadap Rabbul ‘alami? (Q.S. Shaffat : 87)
Duh, bagi seorang pemberani sejati, apalah artinya seluruh beban berat dan resiko duniawi yang tiada sebanding dengan secuil nikmat abadi di Firdaus kelak???
Semoga Allah menjadikan kita sebagai prang-orang yang kuat-berani, bukan orang yang lemah-pengecut. Amin...

By (@destya11 in Twitter)

Jika Istrimu Seorang Guru Sejarah

Kamu tahu bagaimana rasanya berurusan dengan masa lalu setiap harinya??? Bukan Cuma masa lalu, tapi murid-murid yang setiap harinya harus ku ajari tentang semua masa lalu tersebut. Ya, Sejarah , itulah pekerjaanku, guru Sejarah. Masih baik jika murid-murid menganggap sejarah itu adalah pelajaran yang sangat mudah dan seru, karena tidak sedikit murid yang menganggap bahwa sejarah adalah pelajaran yang sangat membosankan dan menganggap remeh. Disitulah kesabaran dan ketekunanku diuji. Aku harus terus mengajari mereka sampai bisa.
Guru Sejarah adalah calon ibu yang baik bagi anak-anaknya. Guru adalah orang yang mengerti banyak tentang pendidikan, kamu tak perlu khawatir tentang kecerdasan anak-anak kita, karena aku akan mengajarkan banyak hal terhadap mereka. Apalagi tentang sejarah, aku akan membuat mereka menjadi orang yang berprestasi dan berintelektual tinggi. Tak hanya itu, ilmu agama in sya Allah juga akan aku ajari dengan baik. Karena kamu tahu kan, ¾ isi Al-Quran itu adalah Sejarah. In sya Allah..dengan bekal ilmu yang aku pelajari aku akan mengajarkan mereka tentang banyak hal terutama Sejarah nabi-nabi dan agama kita tentunya.

Tak hanya dari sisi pendidikan, tapi juga dari sisi logika, strategi dan perencanaan yang matang untuk masa depan anak-anaknya. Jika kamu memilih aku sebagai istrimu, aku yakin kamu tak akan kecewa, kamu akan aku ajari bagaimana berpikir secara historis seperti halnya menemukan kausalitas (hubungan sebab-akibat) dalam Sejarah. Kamu akan aku ajak memecahkan masalah dengan santai, singkat dan menggunakan apa yang kita miliki seadanya seperti halnya ketika aku menguraikan soal sejarah  yang hanya diketahui heuristik (menghimpun jejak-jejak sejarah) dan metodologinya saja. Dan kamu akan aku ajak berpikir dengan metodologi sejarah ketika menghadapi permasalahan hidup ini seperti halnya aku menguraikan soal sejarah dan hukum sebab akibat dari kejadian sejarah tersebut.

Kamu juga tak perlu khawatir aku terlalu sibuk mengurusi anak-anak orang lain di sekolah, karena seperti yang kamu tahu, guru itu jam mengajarnya kebanyakan dari pagi sampai siang. Kamu juga tak perlu risau, jika ada yang menawari aku untuk mengajar tambahan sore harinya, aku akan berpikir puluhan kali untuk menerimanya, karena aku juga punya tanggung jawab penuh untuk mengurusimu dan anak-anak kita di rumah.


Guru seperti aku akan mengajarkan banyak ilmu kedisiplinan untuk keluarga, karena aku sudah terbiasa dengan disiplin. Disiplin waktu, tempat dan sebagainya. Jadi kamu tak perlu khawatir bangun kesiangan, karena ada aku yang siap menjadi alarm untuk membangunkanmu. Kamu tak perlu khawatir kalau rumah berantakan, karena aku sadar betul bahwa kenyamanan rumah adalah hal yang penting yang harus aku urus.

Jadi, siapkah kamu untuk masuk ke dalam keajaiban dunia Sejarah bersamaku???
^_^ - Dewi Setyawati - FKIP Sejarah Universitas Sriwijaya 2011 (@destya11 in twitter)


Minggu, 05 Januari 2014

IF Your's Wife is A Teacher

Apa yang ada dibenakmu jika pada waktunya nanti jodohmu adalah seorang guru? Setiap hari tepat pukul 7 pagi, istrimu ini harus sudah berada di sekolah tempatnya mengajar. Mendidik anak didiknya tanpa pandang status sosial, entah dia anak pejabat, dokter, dosen, tukang sayur, sopir bus akan tetap dipandang sama. Jangan salahkan jika rumahmu nantinya akan penuh dengan anak- anak yang silih berganti membawa tas dan buku untuk belajar berhitung atau membaca. Riuh akan suara anak- anak yang memiliki semangat untuk maju. Mungkin ini akan berdampak pada waktu istirahatmu yang terganggu.
Jika kamu mengharapkan seorang istri yang menjanjikan materi sepenuhnya, jangan kau cari pada sosok guru ini. Ia jauh dari segala gemerlap materi dunia, ia sederhana dengan cinta yang dimilikinya. Cinta akan anak didiknya, cinta dengan pekerjaan yang ia geluti dan yang paling utama adalah cinta dengan keluarganya. Ia tak akan pernah melalaikan tugasnya sebagai seorang istri bagi suaminya dan ibu bagi anak- anaknya. Setiap pagi ialah yang akan bangun pertama kali menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Memasak menu makan siang walaupun raga telah lelah pasca mengajar,mengajarkan les tambahan untuk anak didiknya dan ia tidak akan melupakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga.
Setiap ibu adalah guru, dan ia tidak lupa akan perannya menjadi madrasatul ula bagi buah hatinya. Kau akan melihat bagaiamana ia mendampingi anak-anakmu tertatih membaca Al-Qur’an dan alphabet, bagaiamana ia dengan sabar mengajarkan berhitung dan menulis, bagaimana bunyi doa- doa sehari-hari yang tergolong sederhana dan lain sebagainya.Walaupun sebagai wanita karier, seorang guru memiliki waktu yang cukup banyak untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Ia mempunyai waktu untuk memperhatikan bagaimana buah hatinya tumbuh dan berkembang,.

Kau tak usah heran ketika dia seolah mengenal setiap orang yang dijumpainya, atau ketika tiba- tiba ada seorang anak yang mendekat dan mencium tangannya dengan malu- malu.Itulah resiko menjadi guru, sebagai panutan dan tuntunan bagi anak didiknya. Ketika dia mulai mengeluh dengan pekerjaannya, ketika sebagian dari siswanya belum bisa memahami pelajaran seperti yang ia harapkan, ia hanya ingin kamu kuatkan dengan senyuman atau genggaman yang menghangatkan. Asal kau tahu, mendidik anak orang lain itu tidak semudah mendidik anak sendiri, itu jauh lebih sulit dari yang Kau bayangkan. by @destya11 (in twitter)

Sabtu, 28 Desember 2013

Apa Kata Bintang?

Kaum remaja yang sok gaul, meski telah lengkap dengan busana, gaya rambut, dan asesoris, masih saja belum pede jika tidak melihat ramalan bintangnya di koran, tv, atau internet. Tentang nasibnyam, keuangan, asmara, dan hari baik. Seolah mereka yakin betul, bintangnya lebih tahuntentang masa depan hidupnya. Penyedia jasa ramalan pun semakin mudah di akses. Hotline telpon tarif premium banyak yang menjajakan “apa kata bintang” yang siap didengar kapan saja, dimana saja, oleh siapa saja.     
Warisan Kuno
Ramalan bintang, di sebut juga astrologi, menyandarkan pada peredaran bintang, planet, dan matahari pada orbit imajiner yang mengelilingi bumi. Ada dua belas jenis zodiak yang masing-masing memiliki rentang waktu satu bulan. Waktu ini di tentukan berdasarkan posisi bintang tersebut dengan matahari. Para astrolog percaya bahwa manusia dilahirkan di bawah naungan salah satu bintang tersebut yang bertindak sebagai pembuat karakter pribadi dan nasib manusia. Misalnya, seorang yang lahir 23 Oktober- 21 November ada di bawah naungan bintang Skorpio yang bersifat air dan di pengaruhi planet pluto.
Microsoft Encarta Reference Library 2003 menyebutkan, zodiak berasal dari dataran rendah Mesopotamia, daratan di antara sungai Tigris dan Eufrat, pada masa Babilonia kuno (Kini Irak Tenggara) kira-kira 2000 tahun sebelum masehi. Antara tahun 600 SM dan 200 SM, Mereka mengembangkan suatu sistem untuk menggambar horoskop perorangan. Orang Yunani dan Romawi memunyai andil besar dalam perkembangan astrologi. Sampai sekarang nama-nama Romawi bagi planet-planet itu masih digunakan.
Bintang Tak Pernah Tahu.
Praktek-praktek ramalan bintang warisan kuno tersebut juga berkembang pada zaman keemasan islam. Sehingga kita bisa mendapatkan komentar para ulama tabi’in tentangnya. Imam al-Bukhari di dalam shaihnya menyebutkan bahwa Qatadah berkata :
“Sesungguhnya Allah menjadikan bintang-bintang itu hanya untuk hikmah. Dia menjadikannya sebagai hiasan langit, sebagai penunjuk arah dan sebagai pelempar setan. Barangsiapa berpendapat selain itu, maka benar-benar telah berkata menurut pikirannya sendiri, salah persepsi serta memaksakan sesuatu yang tidak dia ketahui ilmunya. Sungguh, ada orang-orang yang tidak mengetahui agama Allah, mereka menjadikan bintang-bintang itu sebagai sarana untuk meramal. Seperti mengatakan barangsiapa yang menikah ketika posisi bintang anu di anu maka akan begini dan begini, barangsiapa yang melakukan perjalanan ketika posisi bintang anu di sini dan di situ maka akan begini....padahal bintang-bintang itu tak tahu menahu tentang perkara ghaib, begitu pun dengan binatang-bintang (yang dianggap orang tanda sia) dan juga burung. Jika ada makhluk-makhluk yang mengetahui perkara yang ghaib, tentulah Adam mengetahuinya karena dia di ciptakan Allah dengan tangan-Nya, Dia memerintahkan para malaikat bersujud kepada-nya, Dia memerintahkan para bersujud kepadanya dan Dia megajarkan kepada Adam nama segala sesuatu.”
Adapun ayat yang menunjukkan tentang tiga hikmah di ciptakannya bintang adalah firman Allah :
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan,” (Q.S. Al-Mulk : 5)
Dan Firman-Nya :
“dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk jalan.” (Q.S. An-Nal :16)
Katakan : “AKU TAK PERCAYA!”
Boleh percaya boleh tidak, begitulah bunyi provokasi halus untuk berkilah dari tuduhan syirik dan khufarat. Adapun kita, mestinya dengan lantang mengatakan tidak percaya. Bukan saja karena banyak ramalan yang tidak “nembus” , atau bahasa astrolog yang terkesan samar dan menggunakan bahasa umum sehingga bisa ditafsirkan macam-macam oleh konsumen, akan tetapi karena ilmu nujum itu termasuk cabang dari ilmu sihir yang dilarang. Nabi saw bersabda :
“Barangsiapa yang mengambil sesuatu dari ilmu nujum, maka sungguh dia telah mengambil satu cabang dari sihir.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad.)
Astrolog yang meramal dengan bintang, di hukumi sama dengan dukun dan paranormal, barangsiapa bertanya kepadanya maka shalatnya tidak terima selama empat puluh hari empat puluh malam, dan barangsiapa yang bertanya lalu membenarkannyam, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad saw.

Jika kita sedikit saja mau berpikir, maka tak ada alasan sama sekali untuk membenarkan segala bentuk ramalan, apalagi ramalan bintang. Sebab tak ada dasar ilmiahnya sama sekali. Para peramal hanya mendasarkan pada prasangkanya sendiri, tak didasari ilmu. Jika saja ada dan ini pasti tidak ada dasar ilmu yang mendasari, maka tidak akan ada penafsiran yang bertolak belakang antara satu peramal dengan peramal lainnya. Maka yang ada pasti ketidakcocokan antara ramalan dengan kenyataan. Masuk akalkah bila jumlah manusia yang hampir 5 milyar ini bisa diramalkan masa depannya hanya dengan 12 bintang??? Artinya setiap harinya ada 416.666.667 orang yang bernasib sama? Begitulah, kelakuan orang musyrik selalu bertentangan dengan fitrah yang suci, logika yang sehat dan nash-nash syari, Wallahualam... by @destya11 (in twitter)

Pakaian Dusta

Banyak manusia memuji kebaikan Daud at-Tha’i , mendengar semua itu Daud berkata, “Seandainya ,mereka mengetahui sebagian keadaan kami, niscaya tidak ada satu lidah pun yang sudi menyebutkan kebaikan kami selama-lamanya. “Sedang Muhammad bin Wasi’ berkata pada kesempatan yang lain,”Andaikan dosa-dosa itu mengeluarkan bau,niscaya tidak seorangpun yang sanggup hidup berdekatan denganku.”
Ucapan-ucapan luar biasa ini adalah cerminan kerendahan hati yang jujur. Kita bisa melihat di mana posisi kita di banding mereka. Kemudian lebih ‘tahu diri’ bahwa seharusnya kitalah yang lebih pantas merasa rendah di banding mereka. Karena kita sebenarnya jauh lebih berbau, namun tidak pernah merasa malu setiap kita membusung dan kepala kita membesar karena pujian.
Inilah kisah tentang hamba-hamba pilihan yang tahu dan menyadari cacat diri. Buah ma’rifat mereka terhadap pengawasan Allah yang sempurna. Yang mengawasi semua yang tersembunyi saat manusia hanya bisa mengawasi apa yang tampak. Yang mengawasi apa yang batin saat manusia hanya mengawasi yang lahir. Allah berfirma, “...Dan ketahuilah bahwanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya.”
Inilah rahasia itu. Bahwa kita tidak akan pernah bisa mengingkari kata hati akan pengetahuan Allah tentang siapa kita sesungguhnya, meski kita bisa menipu manusia sekitar. Namun sayang, kita tidak pernah takut kelak Allah akan membuka semua topeng. Padahal Dia telah berfirman, “ Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.”
Inilah yang membuat pujian dan kekaguman orang lain berharga sangat mahal. Menutupi pandangan dari pakaian dusta yang kita kenakan guna menampilkan citra diri palsu. Saat itulah ia menjadi jebakan manis yang berakhir dengan siksa di sisi-Nya. Belum lagi ‘perang’ yang selalu bergejolak dalam diri kita. Yang melahirkan kegelisahan dan menihilkan rasa aman karena hakikatnya tidak ada nilai baik, jika kita bisa menilai diri secara objektif. Konflik batin antara fakta bahwa kita menipu diri dengan rasa bangga beroleh pujian. Dan ini berlangsung selamanya.
Akan halnya hamba-hamba terpilih itu, mereka sadar tidak ada lagi tempat bersembunyi. Batin mereka selalu menghadirkan kesadaran penglihatan Allah, hal yang membantu mereka memunculkan taharruj (perasaan berdosa) dalam diri. Di samping membukakan pintu tawadhu’, keadaan ini akan membuat mereka mampu melawan kemauan yang salah dan memaksa diri melakukan hal-hal yang di benci hawa nafsu.
Pakaian hakikat yang nereka kenakan membuat mereka bisa sepeerti Yunus bin ‘Ubait yang berkata, “Saya menemukan seratus sifat baik, yang saya kira tidak ada satupun terdapat pada pada diri.” Bagaimana kita??? Wallahualam... by @destya11 (in twitter)


Jagalah AIB Saudaramu!!!

Suatu hari, ketika pulang dari kuliah kebetulan lewat di depan ibu-ibu yang sedang asyik ngobrol. Tidak sengaja, saya mendengar apa yang mereka bicarakan. Ya, apalagi kalau bukan membicarakan tentang berita yang sedang heboh di kampung ini. (Tentulah kejelekan orang lain). Begitulah mereka kalau kerjaannya sudah beres.
Kadang terbesit dalam pikiran saya mengapa kau hal negatif (aib) itu cepat sekali menyebarnya? Belum lagi kalau di tambah ini dan itu. Astaufirullah!
Manusia diciptakan oleh Allah tidak ada yang sempurna. Sebaik apapun atau sesempurna apapun seseorang pastilah ada kekurangannya. Itu sudah menjadi sunatullah. Begitu juga dengan aib. Pastilah setiap orang mempunyai aib. Kalaupun kita bisa menyembunyikan aib itu pasti akan kita simpan di tempat yang paling rapat, paling rahasia. Tak rela seorang pun mengetahui hal tersebut. Namun apakah kita bisa menyimpannua? Ya, mungkin terhadap manusia saja. Tapi kepada Allah...?
Kalau kita mengaku sebagai seorang muslim yang baik, maka hendaknya kita bisa menjaga aib sesama muslim. Sebelum berbicara lebih jauh tentang aib seseorang, hendaknya kita intropeksi diri. Bagaimana kalau menjadi bahan pembicaraan itu kita, teman baik kita, saudar atau keluarga kita??? Bagaimanakah perasaan kita???
Islam mengajarkan kita untuk saling menjaga aib sesama saudar. Rasulullah saw bersabda,
“Barangsiapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya baik di dunia maupun di akhirat.” (H.R. Muslim)
Bayangkan Allah yang akan menutupnya. Dan itu adalah janji Allah yang di jami pasti sellau benar. Karena kita tahu bahwa sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah. Sebenar—benar janji adalah janji Allah.

Dan ketahuilah bahwa orang islam adalah orang yang menyelamatkan orang-orang islam yang lain dari kejahatan tangan dan lidah.
by : @destya11 (in twitter)

Kekuatan Pikiran

Mungkin,kita pernah atau sering merasa kecewa dan menyesal terhadap apa yang telah kita lakukan. Baik karena perbuatan itu sebuah dosa dan maksiat, atau sebuah kebiasaan buruk yang sejujurnya ingin kita hilangkan. Namun setiap kalinya, hal itu terus terulang, dan kita terus merasa kecewa dan bersalah.
Pernahkah kita ingin berhenti merokok, makan berlebihan, menggigit jari-jari kuku, menunda pekerjaan atau mengulang pekerjaan atau mengulang perbuatan-perbuatan lainnya yang ingin kita hentikan? Alih-alih berhenti, keinginan untuk melakukannya mungkin malah semakit menguat.
Bukankah ketika berada dalam ruangan yang penuh orang asing, kita merokok untuk mengusir kegelisahan? Atau saat kita merasa stress, keinginan untuk makan banyak, mungkin berlemak manis, menjadi sulit di tolak? Demikian pula hal-hal lain yang terus berulang itu.
Sebenarnya, tidak ada manusia yang terlahir dengan kondisi seperti ini, memiliki begitu banyak kebiasaan buruk atau tidak efektif. Sebagaimana keahlian lain yang kita pelajari dalam masa pertumbuhan seperti berbicara, makan dan berjalan, kebiasaan-kebiasaan buruk juga kita pelajari dengan mengamati dan meniru orang lain karena terlihat bagus dan baik. Sehingga kita merasa senang,tenang dan nyaman saat mengulanginya.
Dalam perkembangnnya, kebiasaan-kebiasaan yang sudah terbentuk, baik maupun buruk, mengulang akan terus dipraktikkan meski alasan untuk melakukan tidak ada lagi. Bahkan ketika tidak ada lagi model untuk ditiru dan mengajak melakukannya, atau ketika ia tidak lagi mendatangkan perasaan nyaman.
Memang, saat melakukannya dulu, kita mendapatkan rasa nyaman dan tenang. Dan itu terekama dengan baik sebagai informasi di dalam otak kita. Sehingga setiap kali kita menghadapi situasi yang sama, otak kita menyarankan dan mendorong kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang familiar bagi kita. Otak menginformasikan bahwa tindakan-tindakan itulah yang terbaik untuk dilakukan guna mengurangi ketidaknyamanan.
Pertanyaannya sekarang adalah, Bagaimana cara mengatasinya?
Jawabnya (InsyaAllah), menggunakan kekuatan otak kita. Berpikir dengan cara berbeda dan merasakan hasilnya.
Marilah kita perhatikan, kebiasaan-kebiasaan buruk kita yang selalu berulang, sebenarnya karena kita tidak pernah (bersungguh-sungguh) ingin merubahnya. Kita bahkan tidak mencoba merubah cara kita berpikir tentang hal itu. Sehingga kalau tindakan-tindakan yang kita lakukan selalu sama, bagaimana hasilnya akan berbeda? Kita bisa berubah, hanya tidak tahu caranya.
Padahal jika kita berpikir dengan cara berbeda, hasil yang akan kita dapatkan juga akan berbeda, sebab tindakan-tindakan yang kita pilihkan berbeda. Faktanya, cara kita berpikir akan menentukan cara kita berkomunikasi dengan pihak lain dan bertindak. Perbedaan pola pikir akan menyebabkan perbedaan  tindakan-tindakan yang diambil, sehingga hasil yang akan didapatkan juga berbeda.
Mungkin kita belum tahu bahwa otak kita memiliki kekuatan dasyat yang bisa di manfaatkan untuk merubah kehidupan kita. Penelitian para ahli malah menunjukkan bahwa 96 % kekuatan otak ini masih di abaikan. Artinya, potensi otak manusia yang pernah di teliliti terpakai hanya sekitar 4 % saja.
Kekuatan otak ini ada dua, kekuatan berilmu dan kekuatan berkehendak. Dua kekuatan yang seharusnya kita manfaatkan, bukan sekedar kita ketahui. Yang pertama kekuatan berpikir, kekuatannya tergantung pada informasi (ilmu) yang masuk, pengalaman dan cara berpikir. Sedang kekuatan berkendak tergantung pada yakin, sabar dan keteguhan memegang prinsip.
Artinya, semakin sedikit ilmu yang kita miliki, berarti semakin sedikit kemungkinan kita menyadari kesalahan yang kita lakukan. Bukankah kesadaran akan kesalahan dari kebiasaan-kebiasaan buruk kita itu, karena ilmu yang kita dapatkan belakangan bahwa semua itu memang buruk adanya? Sedang mereka yang tidak berpendapat hal-hal itu sebagai sesuatu yang buruk tentu saja tidak akan merubahnya. Maka setiap kali kita berhenti mencari ilmu dan menggali informasi, berhenti pula kekuatan otak kita menyodorkan pilihan yang lain di luar kebiasaan kita.
Demikian juga, semakin sedikit pengalaman kebaikan yang kita dapatkan selama masa pertumbuhan, semakin berat perjuangan yang kita butuhkan untuk berubah. Bukankah kita sering gagal merasakan manisnya ibadah, semisal shalat dan qiraatul Qur’an karena terlanjur dengan senda gurau dan permainan?
Setelah pilihan berubah di tetapkan, tugas selanjutnya adalah mempertebal keyakinan, keteguhan dan kesabaran. Sebab seringkali perubahan itu membutuhkan waktu yang lama, menemukan hambatan yang tidak sedikit dan pilihan yang tidak populer.
Kesabaran kita perlukan karena waktu yang dibutuhkan untuk berubah seringkali lama. Keyakinan kita butuhkan guna mengatasi berbagai hambatan yang muncul, utamanya perasaan tidak nyaman yang muncul dalam diri kita karena memulai kebiasaan-kebiasaan baru.
Sedang keteguhan kita perlukan guna mengatasi komentar orang lain yang tidak mendukung perubahan itu, juga karena ia bukan pilihan yang populer. Bukankah hanya ikan mati yang berenang mengikuti arus?
Langkah selanjutnya segera memulai perubahan itu. Kita harus yakin bahwa hidup kita akan berubah jika kita berubah, bukan saat orang lain yang berubah. Berpikir positif bahwa kita mampu jika kita memang ingin berubah harus kita tanamkan kuat-kuat. Sebab berpikir negatif dan pesimis hakikatnya adalah sabotase terhadap diri kita sendiri.
Jangan lupa, kekuatan berdo’a kepada Allah sebagai modal besar perubahan itu. Bukankah hanya ridha-Nya yang kita inginkan? Bahkan kesadaran berubah itupun muncul saat kita menyadari ada terlalu banyak hal tidak Dia ridhai dalam kehidupan kita, yang karenanya kita ingin berubah? Kita yakin, Dia pasti menolong hambanya-Nya yang bermujahan di jalan-Nya. Bismillah, mari kita coba!


Dosa Versus Taubat

Allah swt menciptakan manusia dalam keadaan fitrah/ suci. Dalam perjalanannya kemudian banyak manusia yang tersesat dan terjerumus dalam jurang kemaksiatan, yang menghasilkan dosa kecil maupun besar.
Dosa-dosa, baik yang sudah diwujudkan dalam kehidupan nyata maupun yang masih terpendam dalam jiwadan perasaannya, sesungguhnya merupakan efek dari tipu daya setan yang mempengaruhi dan menguasai jiwa manusia. Hal ini di karenakan tidak adanya atau kurang kokohnya benteng pertahanan dalam diri manusia itu sendiri. Allah swt berfirman :
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang di beri rahmad oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Shad : 82)
Bila kita telah melakukan perbuatan dosa, maka yang perlu dilakukan adalah sesegera mungkin bertaubat. Allah swt sengaja menyapa hamba-hamba-Nya yang melampaui batas seperti dalam firman-Nya.
“Katakanlah : ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampai batas terhadap terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmad Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Za- Zumat : 53)
Menurut Ibnu Taimiyah dalam kitab “ At –Taubah”, yang di maksud taubat adalah menarik diri dari suatu keburukan dan kembali pada suatu tindakan yang dapat membawa seseorang kepada Allah swt.
Taubat dibedakan menjadi dua macam. Pertama, taubat wajib yaitu taubat dari kemaksiatan. Kedua, taubat sunnah yaitu taubat yang di anjurkan untuk meninggalkan perbuatan yang tidak di sukai (makruh). Bagi siapa yang melakukan taubat jenis pertama, maka ia termasuk orang baik dan adil. Sedangkan bagi yang melakukan kedua jenis taubat tersebut, maka ia termasuk dalam orang yang lebih dahulu masuk jannah dan di dekatkan Allah swt. Sedangkan siapa tidak melakukan taubat jenis pertama, maka ia termasuk orang yang zalim. Yang perlu di catat di sini ialah, kita tidak boleh bertaubat dari kebaikan (berhenti melakukan kebaikan). Maka barangsiapa yang melakukannya dengan sadar, ia termasuk dalam golongan orang-orang yang fasik.
Lalu apakah sama bagi kita bertaubat sekarang dengan bertaubat esok atau lusa?
Allah swt berfirman,
“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkah (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Hadid : 10)

Singkatnya, selama hamba itu bertaubat, memohon ampunan dan menyesali perbuatan (taubat nasuha), maka Allah akan mengampuninya. Maka marilah berlomba-lomba melakukan kebaikan dan segera bertaubat bila terlanjur melakukan kesalahan.Wallahualam.

Suara Dari Kuburan

Hidup adalah untuk beribadah, kita mengerti itu. Kepada Allah saja, tanpa bagi ‘apa atau siapa’ selain-Nya. Sebab dia Esa yang tidak membutuhkan sekutu dalam segala hal. Dia berfirman, “Aku tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan sebuah amalan dengan mempersekutukan selain-Ku padanya, maka amalan itu bagi yang dia persekutukan. Dan Aku berlepas diri daripadanya.” (Hadis Qudsi Ibnu Majah : 4192)
Maka kemudian Dia wajibkan ke keikhlasan sebagai syarat penerimaan amal shalih. Dia inginkan ketaatan dan ketudukan kita yang bersih dan murni. Terbebas dari semua kotoran dan tendensi pembelok arah penghambaan. Dia akan melihat siapa di antara kita yang benar-benar ingin menyembah-Nya. Mempersembahkan amalan terbaik yang paling benar dan paling ikhlas.
Namun, sungguh sulit nian! Sebab tidak ada amalan tanpa niat. Sedang setiap kita ingin, sedang dan telah bertaubat, batin kita selalu berperang. Lezatnya puja-puji, penghargaan- meski sekedar ucapan terimakasih dan penerimaan manusia, sering melenakan kita untuk tergesa mencari hasil dalam beramal. Kemudian kita melakukan amalam riya’ sebab merindu kekuasaan, kedudukan dan harta. Sedang hati kita masih saja penuh penyakit. Terseok-seok memayahkan diri di dunia, sedang akhirat menyediakan siksa.
Alangkah beratnya! Sebab, seperti nasihat Utsman bin ‘Affan, Ikhlas adalah melihat penglihatan Allah dan bukan yang lain. Sedang Allah melihat hati kita, bukan penampilan dan wujud fisik yang menawan. Fudhail bin Iyadh berkata, “Sesungguhnya, yang diinginkan Allah darimu adalah niat dan keinginanmu. “ Sahl bin Abdillah at-Tasturi menyebut ikhlas sebagai amalan yang paling berat. Alasannya, sebab hati tidak mendapatkan bagian.
Ikhlas adalah jalan keselamatan, pembebas hati dari ibadah ritual yang memenjarakan fisik, sebab ia adalahnya ruhnya. Bukankah banyak yang berpuasa dan shalat malam fisik mereka, namun tidak beroleh apa-apa selain lapar, dahaga dan berjaga-jaga? Atau darah-darah dan daging binatang korban yang tidak sampai kepada Allah, meski manusia banyak berdecak menyaksikannya? Sebab yang akan sampai adalah takwa kita, sedang takwa ada di dalam hati!
Hamba yang mengharap ridha Allah, akan melihat manusia lain seperti penghuni kubur yang tidak memberi manfaat dan madharat. Suara-suara mereka kalaulah ada meskinya tidak menakutkan, sehingga mempengaruhi niat awal hamba saat berbuat. Suara-suara yang mungkin menggemakan kebencian. Namun, bukankah Allah telah berfirman, “ Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya,” (Q.S. Al-Mukmin : 14)

Sungguh, keikhlasan adalah rahmad Allah bagi hamba pilihan. Persoalannya, siapa yang akan menyambutnya?

Jumat, 27 Desember 2013

Serapuh Hati Tanpa Keyakinan (Cerpen)

“Assalamualaikum”.
Kujabat tangan akhwat karibku satu persatu. Tidak ada yang mau ketinggalan jam pertama pagi ini, takut sama dosennya yang killer. “Reva kemana, kok belum hadir?” tanyaku. Tapi tidak ada yang tahu. Biasanya jika diantara kami tidak hadir kuliah selalu memberikan informasi pada yang lain.
Jama delapan tepat, dosen masuk dan langsung memberikan kuliah. Suasana kelas pun berubah. Semua mata tertuju pada layar proyektor, meski ada yang sambil berjuang menahan kantuk. Sementara konsentrasiku sedikit terganggu dengan perasaan yang bertanya-tanya. Kepada Reva???
Kami adalah sembilan bersahabat. Di atas jalan-Nya Kami bersaudara dan bertekad menyempurnakan ketaatan. Alhamdulillah, Allah Ta’ala menunjuki kami pada akidah dan manhaj salafush shalih. Kami berusaha untuk melazimkan sunnah dalam keseharian. Banyak yang mengatakan kami eksklusif dan ekstrim. Mereka memandang sinis pada kami karena pakaian dan cara pergaulan kami. Ada saja sindiran melecehkan. “Awas, manusia kelelewar leawat!” atau “Bau surga nih!”, dengan es-be. Ya...mungkin inilah resiko jika ingin berkomitemen dengan syariat. Lagian boleh jadi karena mereka belum paham. Kami berusaha sabar dan sebisa mungkin menjelaskan terutama kepada mahasiswi yang mengaku muslim tetapi memilih ‘gaul’ dalam berperilaku dan berpakaian.
Dua jam kuliah berlalu, tak banyak waktu terbuang dari awal sampai akhir. Soal paham atau tidak, itu masalah lain. Ya... begitulah mungkin standar dan gaya pendidikan kita. Yang penting target beban silabus terpenuhi, Selesai! Kelas tanpa hati..! Mahasiswa berhamburan keluar, padahal dosen belum beranjak mengemasi bahan kuliah yang baru sampai di sampaikan. Seperti biasanya, kami memilih keluar terakhir agar tak perlu berdesakan. Setelah semua keluar, di barisan kursi bagian depan ada sesosok wanita berjubah serba gelap lengkap dengan cadar. Mungkin dia tadi masuk kelas agak mepet dengan waktu mulai jam kuliah. Kami menduga dia adalah senior yang mengulang mata kuliah. Terdorong ingin menyapa, saya menghampirinya.
“Assalamualaikum, ukty” Sapaku sambil menjabat tangannya/
“Waalaikumsalam warahmatullah.” Jawabnya.
Saya mencoba memperhatikan matanya, siapa tahu saya bisa mengenali wajah di balik cadar itu.” “Kenapa, ukhty? Kaget ya? Saya Reva. Lho.”,katanya.
Spontan saya kaget bukan main.
“Betul, Kamu Reva?”, tanyaku hampir tak percaya.
Dengan lembut ia menganggukkan kepala. Saat itu saya langsung memeluknya sambil tak henti mengucapkan syukur dan memuji Allah Ta’ala. Tak terasa air mata mengalir membasahi jilbabnya. Sahabatku yang lain ikut menangis dan turut memeluknya.
Reva berbisik lirih , “Doakan ya ukty, agar saya istiqamah selalu”
“Amin...Insya Allah!, jawabku.
Reva yang cukup pandai berargumen jika berdiskusi mengenai islam, walaupun jawaban-jawabannya lebih sering dilandasi pendapat akalnya, Reva yang saya kenal sebagai mutarabbi salah satu liqo’ di sebuah jama’ahnya terdahulu, Reva yang di abtara kami ber-sembilan, dialah yang masih cenderung bebas dalam bergaul dan berpakaian, Reva yang terbiasa dan longgar dalam bergaul dengan lawan jenis, saat ini dia telah berubah. Ia menjelma menjadi seorang akhwat yang rajin mengikuti ta’lim dan kegiatan dAkwah lainnya.
Waktu berlalu beberapa minggu, Reva semakin dekat denganku. Ia sering mabit di kostku dan sering curhat tentang keadaannya. Kami saling menasehati dan memberi dorongan satu sama lain untuk tetap istiqamah. Kami selalu berusaha hadir bersama dalam kajian, seminar, bedah buku, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Setiap ada informasi kegiatan, kami selalu ingin menjadi yang pertama hadir di majelis-majelis tersebut. Kami seperti orang yang kehausan ilmu, dan yang demikian makin mempererat hubungan kami.
Selang beberapa minggu kemudian, Reva tambah sering menginap di kost saya. Reva datang dengan membawa cerita-cerita tentang keadaannya semenjak ia memakai pakaian syar’i.. Ternyata  keluarga dan kerabatnya menolak keras pilihannya. Menurut mereka, pakaian seperti itu identit dengan apa yang mereka sebut “Teroris”. Sejak keluarganya tahu, semua biaya hidup dan kuliahnya di hentikan. “Sabar ya Ukty, kemudahan pastikan datang. Ujia tak kan selamanya. Hanya sekejap kemudian lewat, jika saja kita tetap bertahan. Jangan pernah menyerah!”, Saya mencoba menasehatinya. Untuk beberapa hari kemudian, Reva masih bertahan.
Pada malam berikutnya Reva datang lagi dan menyatakan ingin tinggal di kost untuk beberapa hari. Ia mengatakan sudah tak punya uang lagi. Jangankan kuliah, sedangkan untuk makan saja sudah tiada yang tersisa. Saya tidak menyangka ada orangtua yang setega itu.
“Untuk apa saya berpakaian begini, kalau saya harus mati kelaparan. Lagian gara-gara pakaian ini, saya tidak bisa pergi ke tempat-tempatyang saya senangi, pergaulanku jadi terbatas, kuliahku terhambat, dan segala macam kesulitan harus saya tanggung!”jawabnya setelah mendengar nasihat saya. Tidak saya sangka ia kan berkata seperti itu.
“Astaufirullah..., beristighfarlah ukhty atas apa yang barusan kau ucapkan. Ini semua adalah ujian dari Allah. Sabarlah! Innanashrallahi qariib!” Saya berusaha menasehatinya lagi.
“Hah, persetan dengan semua itu, buktinya mana pertolongan Allah?  Mana kemudahan yang di janjikan Allah?” Katanya dengan mata memerah. Emosinya semakin tak terkendali, hampir saja hali itu juga memancing emosi saya. Tapi saya berusaha untuk tetap bersabar menghadapinya. Sampai akhirnya kami tidur dengan membawa pikiran masing-masing.
“Benarkah yang di depan pandanganku itu adalah Reva?” dalam hati saya bertanya. Saya usap mata berkali-kali. Dari kejauhan ia nampak menggunakan pakaian yang ketat dan seronok. Benar, ia adalah Reva. Tapi di man gerangan pakain syarinya kemarin. Bahkan bekasnya sudah tidak keliatan lagi. Hampir saja saya tak percaya yang di depanmataku adalah Reva, sahabat yang sangat kusayangi di atas jalan Allah ini. Saya coba mengingatkan lagi, tapi justru umpatan kembali berhamburan dari lisannya. Sejak saat itu ia semakin jauh dariku.
Hari demi hari saya saksikan bagaimana Reva sekarang. Selalu terbayang semua kenangan yang pernah kami lalui. Saat-saat bermajelis bersama, saat-saat menghadiri kegiatan keislaman bersama-sama, saat-saat berdiskusi bersama,curhat...semua itu tinggal kenangan. Entah sekarang, dia sibuk di mana dan dengan siapa. Saya hanya bisa bergarap, semoga Allah mengembalikan Reva ke atas jalan-Nya.

Ya Allah, Engkaulah dzat yang membolak-balikkan hati. Tetapkan hati ini dalam agama-Mu, dan berilah kami kekuatan agar bisa istiqamah dalam agama-Mu. Dan janganlah Engkau cabut hidayah ini. Karena jika Engkau mencabutnya, maka pastilah hamba menjadi orang yang sangat merugi.

Kamis, 26 Desember 2013

Saatnya Berbagi


Bagaimanapun, mutiara tetaplah indah, sutra tetaplah halus, madu tetaplah manis dan misik tetaplah wangi. Kecuali kita menimbunnya dengan lumpur, menyentuhnya dengan jemari lumpuh, meminumnya dengan racun, atau mencampurnya dengan bau bangkai.
Seperti itulah kebaikan. Seperti namanya, ia akan memberikan sejuta manfaat bagi siapa saja yang menemuinya. Karena ia adalah pohon yang seketika berbuah. Kilaunya yang indah, sentuhannya yang halus, rasanya yang sedap, dan aromanya yang wangi, menentramkan perasaan, menenangkan pikiran, melapangkan dada dan mendamaikan hati. Dan yang pertama kali merasakannya adalah yang melakukannya. Itu berarti kita, saya dan anda atau mereka yang ada di sana.
Maka, inilah saatnya berbagi. Memberi sedekah kepada si miskin, menolong yang teraniaya, meringankan beban yang menderita, memberi makan orang yang lapar, menjenguk yang sakit, membantu yang membutuhkan dan memohobkan ampun bagi para pendosa. Terutama saat kita di landa resah gelisah! Berbuat kebaikan kepada sesama adalah pencerahan jiwa, yang tidak akan pernah kita sesali.
Ya, Karena kita adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam kehidupan ini. Kita harus mengekspresikan ‘jiwa sosial’ itu secara benar. Dan untuk itu kita harus selektif memilih. Tidak semua bentuk interaksi terpuji dan di ridhai, sebab ada pula bentuk interaksi yang di murkai. Hanya membuahkan dosa dan permusuhan.
Karena itulah islam mengarahkan kaum Muslimin agar secara selektif berta’wun dalam kebaikan dan ketakwaan, berpadu dan menyatukan barisan. Semua itu, selain bentuk penyaluran peran sosial, juga adalah bentuk penanaman rasa cinta kepada sesama dengan benar. Kemudian mendahulukan kepentingan mereka di atas kepentingan pribadi dan cinta sendiri.
Maka, kita tidak heran pada penelitian Sigerman pada 1997, yang menemukan, bahwa berinteraksi dengan komunitas terbesar dapat meningkatkan kebahagiaan manusia hingga 30 %. Sedang dalam penelitian lain di temukan, individu bersosial secara terbuka, cenderung lebih puas dalam hidupnya sekitar 24 % di banding yang tidak berbuat demikian. Sementara Rasul menyebutkan bahwa kebaikan adalah penentraman jiwa.
Pola-pola interaksi sosial yang sehat seperti inilah yang akan melemahkan emosi marah, benci, permusuhan, dan kezhaliman. Di samping bentuk-bentuk pencarian kebahagian inderawi semata, yang semu dan individualistik, karena menjauh dari Allah dan melawan fitrah. Menghilangkan perasaan terpencil dan tertolak yang sangat menyesakkan dada dan membebani pikiran. Menggantikannya dengan pola-pola kasih sayang, cinta, pengorbanana, dan kesetiaan. J