Rabu, 25 Desember 2013

Menumbuhkan Motivasi

Kita mengenal istilah al-himmah al ‘aaliyah (cita-cita tinggi) sebagai hal yang bisa menjadi motivator seorang untuk berbuat. Muhammad bin Ibrahim al-Hamd menjelaskan tetang al-himmah al-‘aaliyah sebagai niat yang jujur, tekad yang bulat lagi tinggi, dan keinginan yang mantap untuk memiliki sifat-sifat utama dan bebas dari sifat-sifat yang rendah. Didalam Al –Quran, Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum, sehingga mereka merubah apa yang ada pada diri meraka,” (Q.S. Ar- R’du :11). Sedang Rasulullah saw bersabda. “Ilmu itu di petoleh dengan belajar, dan kesantunan itu diperoleh dengan belajar santun. Barangsiapa yang mencari kebaikan, dia akan meraihnya. Dan barangsiapa memelihara dirinya dari keburukan, maka dia akan terpelihara.” (HR. Al Khatib)
Pentingnya Al Himmah al- ‘Aaliyah
Islam mencela manusia yaang rendah cita-cita hidupnya. Bodoh, bermalas-malasan di dunia, suka mengerjakan hal-hal yang remeh, tidak punya tujuan  hidup selain menurutkan hawa nafus, mementingka penampilan dan kecukupan bagi diri sendir, serta tidak peduli penderitaan orang lain.
Hatim at-Tha’i pernah bersyair : Allah mencela orang yag miskin yag cita-cita dan kemauan hidupnya sekedar pakaian dan kemauan hidupnya sekedar pakaian dan makanan dia melihat kelaparan sebagi penderitaan. Jika merasa kenyang, hatinya tidur pulas karena sedikit kemauannya.
Karena sesungguhnya, nilai manusia adalah hasil karyanya dalam hidupnya. Dan setiap manusia memiliki modal dan kesempatan yangs ama untuk berkarya. Kemudian masig-masing dari merekalah yang akan membentuknya menurut keinginan mareka sendiri-sendiri. Artinya, menjadi seorang yang memiliki akhlak luhur dan mulia serta berjiawa besar, menghabiskan waktu yang sama dengan mereka yang berakhlak buruk, terhina dan berjiwa kerdil. Semuanya berawal dari kemauan dan cita-cita yang tinggi. Hal yang bisa memotivasi seseorang dengan cambuk celaan saat dilanda kemalasan, menghalanginya untuk databg ke tempat-tempat hina, tidak menghindari kemuliaan serta mengarahkan seluruh tujuan hidupnya menuju puncak kemuliaan. Memenejer waktu dan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya. Bukankah banyak manusia yang tenggelam dalam nikmat sempat dan sehat? Juga, bukankah siapa yang menanam akan mengetam?
Bahwa menjadi manusia mulia yang bercita-cita tinggi akan menjalani kehidupan yang lebih sulit dan berat, serta penuh kepenatan tidak bisa dipungkiri. Namun, ibarat pahit yang menyembuhkan, segalanya kesulitan yang menghadang justru menjadikan hidup lebih dinmis, dan ampuh mengusir rasa bosan, gelisah, dan keluh kesah.
Ahmad Syauqi bersyair, Burung terbang dengan sayapnya, sedang manusia terbang dengan kemauannya.
Cara mencapainya.
Awalnya adalah Iman, utamanya kepada kehidupan akhirat. Ia akan menjadi bara apai yang menyala-nyala dalam hati manusia. Menggiringnya menuju pintu-pintu kebajiaka dan kemuliaan. Saat iman ini hilang melemah tau hilang, manusia tidak lagi peduli untuk meraihnya. Hilanglah berkah umur, ilmu, dan amal, karena hanya berorientasi kepada dunia.
Bagi seorang mukmin, imanlah yang akan menghantarkannya pada keinginan mendapatkan ridha Allah dan masuk surga. Keinginan tertinggi yang tidak ada pesaingnya. Sebab dunia – betapun manisnya – tidak berarti jika di bandingkan akhirat.Sehingga harus mengejar dunia, semuanya adalah wasilah (sarana) untuk menggapai kepentingan akhirat.
Mengetahui manfaat bermujadah meraih cita-cita yang tinggi adalah langkah berikutnya. Allah berfirman, “ Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya. Dan sungguh merugilah orang yang mengotori.” (Q.S. As- Syam : 9 -10), Ibnul Qayyim mengataan bahwa hal yang menyibukkan manusia adalah apa yang dianggapnya mulia dan bermanfaat. Maka barangsiapa gagal mengenali manfaatnya mangejar kemuliaan hidup, tentu gagal juga hidupnya. Dia hina, dan bahkan lebih hina memnjam istilah Al Quran dari binatag.
Selanjutnya adalah menentukan prioritas amal. Sebab bagaimanapun banyaknya pilihan dalam hidup tidak banyak kesempatan dan kemampuan yang kita miliki. Menegtahui prioritas amal akan memandu kita memilih amalan yang tepat dan tahapan mencapainya. Juga piliha-pilihan amal yang rasional sesuai kesanggupan. Ibnu Umar berkata, “Kami dilarang Rasulullah melakukan sesuatu di luar kesanggupannya.”
Iman kepada takdir secara proposional akan membangkitkan kemuliaan, harga diri, keberanian, kesabaran, dan berusaha menghadapi kesulitan. Ia akan mengharuskan  seorang hamba berusaha sekuat tenaga meruah realitas yang dihadapi, karena dia harus berbuat untuk merubahnya, serta tidak akan menyesaliapa yang telah lewat.
Rasulullah saw  bersabda, “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Dan segala hal kebaikan di dalamnya. Maka perhatikan apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah bersikap lemah. Jika ada sesuatu menimpamu, janganlah berkata. ‘sekiranya aku melakukannya niscaya akan begini dan begitu’ Tapi katakankanlah, ‘itu dikehendaki Allah, dan apa yang di kehendaki-Nya pasti terjadi’” (HR. Muslim). Sehingga berargumen dengan takdir hanya diizinkan saat menghadapi musibah dan tidak diizinkan di luar itu.
Membaca kisah-kisah keteladana juga memberi banyak manfaat. Umat islam sepanjang sejarahnya tidak pernah sunyi dari tokoh-tokoh besar dan agung yang mencengangkan. Baik itu di bidang ilmu pengetahuan dan ibadah, jihad dan dakwah, pengorbanan dan kedermawanan, maupun bidang-bidang yang lain.
Kalau perlu kita bisa memilih kisah-kisah yang bukan kisah para nabi, agar kita tidak berkata, ‘mereka adalah manusia yang mendapat bimbingan Allah’. Juga bukan kisah para sahabat agar tidak mengatakan,’mereka terdidik oleh pendidik agung agung. Rasulullah saw. Kisah manusia biasa yang tertulis dengan tinta emas sejarah akan memberikan inspirasi kepada kita untuk  meneladani dan mengikuti jejak mereka.
Kurangi Makan dan Tidur.
Banyak makan dan tidur akan melemahkan jiwa, mengajak berbuat maksiat dan malas mengerjakan taat. Umar bin Khathtab berkata, “Barangsiapa banyak makannya, maka dia tidak akan menemukan kelezatan dalam berzikir kepadaAllah.” Beliau juga berkata,”Barangsiapa yang banyak tidur, maka dia akan mendapatkan keberkahan dalam umur”.
Ibnul Qayyim menambahkan, “Jika nafsu merasakan kenyang, maka ia bergerak, berguncang dan mengitari pintu-pintu syahwat. Sedang jika lapar, maka ia akan tenag, khusyu’ dan tunduk.” Menurut Luqman Hakim, kekenyangan akan membuat pikiran tertidur, hikmah menjadi bisu dan tubuh malas beribadah.
Belajar melawan nafsu adalah langkah berikutnya. Karena secara umum, nafsu berjalan menyelisihi kebenaran dan keutamaan. Ibnul Qayyim berkata,”Antara anda dengan orang-orang sukses ada bukit dan hawa nafsu. Mereka turun di belakangnya. Maka pendekkanlah masa singgah, niscaya anda akan sampai pada mereka.”
Berikutnya adalah mencari lingkungan yang memberi kesempatan berkembang berupa penghargaan kepada kemuliaan dan ketakwaan, adanya keteladanan dan motivator untuk malu jika rendah dan hina, serta terpacu  memperbaiki diri. Dalam hal ini kita harus berpaling dari orang-orang bodoh yang bisa mempengaruhi dan meracuni pikiran.
Manfaatkan Setiap Peluang
Peluang adalah kesempatan berharga yang harus dimanfaatkan. Banyak peluang yang hanya dataang sekali dalam hidup. Jika ia hilang, tidak dapat lagi digantikan. Memanfaatkan setip peluang yang ada menandakan kesungguhan dan keseriusan seseorang dalam mencapaai keinginannya.
Faktor yang juga penting adalah keberanian merubah kebiasaan buruk dan tidak efektif. Sebab banyak keinginan yang terkendala kebiasaan-kebiasaan yang tidak menunjang. Untuk itu jangan lupa selalu berdo’a kepada Allah yang memudahkan setiap kesulitan dan menguatkan setiap kelemahan. Bukankah kita pernah berdo’a agar di jadikan sebagai imamnya hamba-hamba yang bertaqwa.
Mari kita lihat kesungguhan manusia penghamba dunia yang telah bersungguh-sungguh mengejarnya, agar kita bisa memahami ucapan Imam as-Syaukani, “Jika demikian keadaan (Semangat) mereka dalam urusan-urusan duniawi yang cepat hilang dan mudah lenyap, maka bagaimana tidak demikian tuntutan orang-orang yang menuju kepada suatu yang lebih mulia, lebih luhur, lebih penting, lebig menilai, lebih bermanfaar dan lebih berfaidah?”
Kesimpulan

Benarlah hikmah yang mengatakan agar kita bercita-cita smpai kebulan, sebab jika meleset, paling tidak kita masih akan mendarat di awan. Sekali lagi, nilai kita adalah prestasi yang kita persembahkan bagi Allah dan sesama. Semoga kita bisa menjadi manusi yang bernilai. Wallahualam. J

Kelapangan Hidup

Dalamnya laut bisa di duga, luasnya angkasa bisa di terka. Namun, siapa yang tahu dalam dan luasnya dada manusia? Ia bisa menyempit saat berpaling dari Allah. Baik dari agama-Nya, dari mengamalkan ajaran-ajaran-Nya. Kemudian menyesakkan pemilik-Nya hingga sulit bernapas. Hingga hidup berubah menjadi siksaan dalam setiap tarikan nafas. Tapi ia juga bisa meluas melebihi samudra.
Iman kepada Allah kemudian mentauhid-Nya adalah sebab pertama. Dalam kebeningan dan kesuciannya, ia melapangkan dada. Bahkan hingga melebihi dunia seisinya. Iman, sebagaimanan sabda Rasulullah saw kepada Amru bin ‘Abasah, adalah sabar dan lapang dad. Sedang yang paling afdhal dari adalah kebaikan akhlak.
Dunia sejatinya hanya tempat persinggahan. Tempat menyelesaikan perbekalan, dan bukanlah tempat tinggal yang hakiki karena akan di tinggalkan. Bukankah manusia sebenarnya adalah musafir? Imanlah yang mengajari begitu.
Maka perolehan dunua dalam sedikitnya, dalam susah senangnya, dalam ringan beratnya adalah kelapangan bagi hamba beriman. Seluruhnya adalah kesempatan mengumpulkan bekal. Menggapai ridha Allah. Kelapangan bukanlah saat menyombongkan diri. Sedang kesempitan bukanlah saat marah kepada takdir Allah. Kemudian muaranya adalah kelalaian akan perjalanan.
Dengan seluruh keadaannya, seorang mukmin mencahayakan kalbunya dengan amal shalih. Dia tetaplah dermawan, murah hati, pemurah, malu, tawadh’, sabar, tidak mengganggu orang lain, pemaaf, ringan tangan, ringan hati, dan wajahnya berseri-seri. Dia membawa seluruh ambisinya ke satu arah saja. Yakni bertemu Allah, bahagia di akhirat dan damai di sisi-Nya. Seperti firman Allah dalam surat al-Jin ayat 16, “Dan bahwanya : jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).”
Baginya, mendendam kepada dunia, diri sendiri, orang lain maupun Allah adalah perbuatan sia-sia yang menguras energi. Karena dia harus membayar dendamnya dengan hati, daging, darah, perasaan, kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaanya. Hingga ia terasa sesak.
Hamba yang lapang dadanya, menjalani hidup tanpa keluh kesah karena kehinaan dunia. Tanpa persaingan kotor demi meraih kejayaan semunya. Dia sibuk dengan kebaikannya, sedang perolehan orang lain bagnya adalah seperti ungkapan al – Hasan, “ Dia mempunyai  urusan, sedang manusia lain, mempunyai urusan lain.”

Karena dia tidak pernah tahu apa yang terjadi besok, seluruh waktu terlalu sayang disia-siakan. Sesungguhnya, alangkah lapangnya hidup ini sebenarnya! (Wallahua A’lam)

Hanya dengan Keberanian


Jalan istiqamah hanya dapat dilalui oleh para pemberani. Berani menentang hawa nafsu, karena kebenaran itu umumnya berseberangan dengan hawa nafsu. Juga berani menyelisihi kesesatan meski telah mendominasi bumi, karena umumnya manusia berpihak pada kesesatan. “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscahaya mereka akan menyesatkan dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Q.S. Al – An’am : 116)
Dakwah islam hanya mampu di pikul oleh da’i yang berani menghadapi rintangan, penolakan, gangguan, celaan, dan bahkan permusuhan. Maka tiada seorang rasul pun kecuali dia seorang pemberani. Begitu pun orang-orang yang melanjutkan perjuangan mereka. Allah menyebutkan generasi yang dicintai Allah dan Allah pun mencintainya, salah satu cirinya adalah, “wa laa yakhafuuna laumata laa’im”, tidak takut celaan orang yang suka mencela. (Q.S. Al-Maidah : 54)
Ibnu Katsir menafsirkan, yakni celaan orang tidak menghentikannya untuk taat kepada Allah, menegakkan hukumnya, memerangi musuh-musuh-Nya, menyeru yang ma’ruf, mencegah yang munkar, tak ada suatu apapun yang sanggup menghalangi mereka untuk berbuat seperti itu.
Jannah hanya layak diberikan kepada orang yang berani menempuh jalan yang penuh onak dan duri, mendaki tebing yang curam dan terjal. Karena jannah itu tertutup dengan berbagai hal yang tidak menyenangkan.
Alangkah indah nasihat khalifah Ali “Ada enam hal, apabila terdapat pada diri seseorang maka dia betul-betul memburu jannah dan lari dari neraka. Yakni orang yang mengenal Allah lalu mentaati-Nya, mengenal kebenaran lalu mengikutinya, mengenal jannah kemudian  antusias mengejarnya, mengenal setan lalu memusuhinya, mengenal dunia lalu zyhud terhadapnya dan mengenal neraka lalu dia menjauhinya.”
Betapa banyak manusia yang telah mengenal Allah, namun berat untuk taat kepada-Nya. Takut sedikitnya teman, takut kehormatannya jatuh di mata orang, takut kehormatannya jatuh di mata orang, takut kecaman orang, takut terkurangi harta bendanya orang. Jannah tidak merindukan para pengecut seperti itu. Bahkan Allah murka kepada orang yang mencari ridha manusia dengan sesuatu yang mendatangkan kemurkaan-Nya.
Ada pula yang telah di beri pengetahuan tentang kebenaran, namun tak sanggup untuk menempuhnya. Karena tak ingin merubah kebiasaan lamanya, tak ingin kehilangan rekan-rekannya, takut kehilangan jabatan dan pekerjaannya.
Begitupun dengan jannah. Semua orang akan di tergiur dan terpesona mendengarkan berita tentangnya, namun berapa orang yang berani membayar harganya? Karena jannah menuntut pengorbanan orang yang merindukannya. Pengorbanan waktu, tenaga, harta,dan bahkan nyawanya. Konsekuensi inilah yang tak sanggup di tunaikan oleh kebanyak orang yang telah mengetahui jannah dan kenikmatannya.

Anehnya, ada yang ingin menggapai jannah, namun jalan neraka yang ia tempuh. Karena jalan itu lebih mulus, menyenangkan dan menggiurkan. Mareka takut kehilangan kenikmatan semu itu. Wallahul muwaffiq. 

Biarkan Al- Quran Menyentuh Hati Kita

Ada kelezatan dan keindahan di dalam Al- Quran. Sebuah pesona yang mewariskan, kecintaan, kerinduan, rasa takut, harapan, penyerahan diri, tawakal, keridhaan, kelapangan hati, kesyukuran, kesabaran, ketenangan, dan semua hal yang bisa menghidupkan hati.
Semua manfaat yang di butuhkan manusia demi kebaikan hatinya ada di dalam Al- Quran. Begitulah, sehingga Ibnul Qayyim – Sang pakar hati berkata, “ Pada intinya, tidak ada sesuatu pun yang lebih bermanfaat bagi hati selain membaca Al –Quran disertai dengan mentadabburi dan memikirkan isinya.”
Namun pengaruh yang di timbulkan oleh riuhnya berbagai persoalan kehidupan dan kegelisahan orang-orang sekitar kita, sangat mungkin akan menggoyahkan keyakinan kita. Sebagaimana ia juga akan menguras tenaga dan mencabik-cabik ketenangan kita. Bukabkah Allah telah berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang beriman, dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram!” (Q.S. Ar – Ra’d : 28)
Mengapa tidak berpengaruh???
Sebuah santapan bergizi dan lezat, hanya akan membangkitkan selera dan bisa di nikmati oleh mereka yang sehat. Karena manusia yang sakit tentulah tidak akan berselera dan mampu menikmati lezatnya sebuah hidangan. Rasa sakit yang diderita telah membengkokkan perhatian dan mengubah selera.
Pun demikian halnya dengan Al –Quran. Ia adalah jamuan Allah, yang hanya bisa di nikmati oleh hamba-hamba yang sehat hati dan jiwanya. Bahkan tingkat pengaruh Al –Quran bagi manusia, sangat ditentukan oleh tingkat kebersihan hati hamba. Dari sini, kegagalan kebanyakan manusia memperoleh manfaat Al- Quran, atau bahkan menuduhnya sebagai dongengan isapan jempol umat-umat terdahulu, sejatinya hanyalah karena hati mereka yang kotor. Hati yang tertutup dosa dan maksiat. Allah berfirman menjawab tuduhan bahwa Al-Quran adalah dongengan umat-umat terdahulu, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya (dosa) yang selalu mereka usahakan itulah (yang) menutupi hati mereka.” (Q.S. Al Mufthaffifiin : 14)
Termasuk dalam konteks ini adalah manusia-manusia sombong yang meremehkan Kalamullah. Berpaling meninggalkan Al-Quran untuk membela pendapat akal mereka yang picik, atau demi hawa nafsu dan kepentingan dunia mereka. Allah berfirman. “Sesungguhnya ayat-ayat-Ku (Al-Quran) selalu di bacakan kepada kalian, maka kalian selalu berpaling ke belakang dengan menyombongkan diri terhadapnya, Dan kalian mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadap di waktu kalian bercakap-cakap di malam hari. Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?” (Q.S. Al-Mukminum : 66-68).
Jujur saja, sampai kini, pengaruh Al-Quran bagi jiwa kita belumlah maksimal. Adakalanya jiwa kita bergetar karen pesonanya, namun di kesempatan lain kita mudah saja mengabaikannya. Tentulah fluktuasi ini dikarenakan kualitas iman dan kebersihan hati kita yang memang naik turun. Bukan karena kesombongan kita terhadap kita terhadap kalamullah. Sebab jika ini penyebabnya, Nauzubillah min zhalik!!!
Agar Ia menyentuh hati. J J J
Kita semua tentulah menginginkan manfaat Al –Quran didalam kehidupan ini. Dan itu terjadi Insyaallah Jika kita bersungguh-sungguh melakukannya. Dalam hal ini, paling tidak ada tiga pembahasan yang saling berhubungan. Kita harus mengenal Allah sebab Dia-lah yang menjadi lawan bicara ketika membaca Al-Quran. Juga Al-Qurannya sendiri yang merupakan saran mencapai manfaat sebab ia adalah Kalamullah. Dan tidak lupa pula adalah hati kita, sebab ialah pihak yang akan menerima pengaruh Al – Quran.
Adapun caranya, pertama tentulah niat yang ikhlas. Sebab banyak manusia yang membaca Al –Quran dengan niat keliru. Mengharapkan pujian dan penghargaan manusia atau demi kepentingan dunia. Sungguh, Al –Quran akan mempengaruhi manusia sesuai dengan niat yang ada. Imam Qatadah berkata, “Tidaklah seseorang  bermajelis bersama Al –Quran, kecuali Al- Quran itu akan menambah atau mengurangi imannya”. Berarti, tidak semua yang membacanya Al –Quran akan bertambah imannya. Berarti, tidak semua yang Al –Quran akan bertambah imannya. Bahkan bisa jadi malah menguranginya.
Kemudian menghadirnya hati saat membacanya. Seperti perkataan Ibnul Qayyim, “Apabila engkau ingin mengambil manfaat dari Al –Quran, maka kumpulkanlah hatimu saat membaca dan mendengarkannya! Bukalah pendegaranmu dan rasakanlah kehadiran Dzat yang berfirman dan berbicara dengannya.”
Konsentrasinya jiwa hamba yang sedang membaca Al- Quran, akan membuatnya lebih fokus, sehingga tiada lagi penghalang anatara hatinya dengan Al –Quran. Ini termasuk syarat penting, sebab sibuknya hat akan melalaikannya dari memahami makna ayat-ayatnya.
Allah berfirman, “Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat peringatan orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Q.S. Qaaf : 37)
Ibnu Qutaibah menjelaskan ayat ini, “Dengarkan Kitabullah dengan kesaksian hati dan pemahaman, bukan dengan kelalaian dan kehampaan.”
Inilah taddabur itu. Membaca Al – Quran dengan merenungi dan memahami ayat-ayatnya. Berkata Imam al – Juri, Barangsiapa mentadabburi Al- Quran, niscahaya dia akan mengenal  Rabbnya, mengetahuinya keagungan dan keluasan kerajaan-Nya, mengetahui keagungan karunia-Nya atas kaum mukminin untuk beribadah kepada-Nya.”
Tadabbur Al-Quran juga akan mengokohkan iman pelakunya. Keyakinannya akan kebenaran ayat-ayat Al-Quran semakin mengkristal. Salah satunya karena tidak adanya pertentangan di dalam kandungan ayat-ayat itu. Allah berfirman dalam surat An – Nisaa’ ayat 82, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al- Quran? Kalau kiranya al –Quran itu bukan dari sis Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”


Tumbuhkan Semangat. J J J
Untuk menjaga kontinuitas tadabbur Al- Quran, kita harus senantiasa menjaga energi hati kita. Sebab hati kita yang mudah berubah-ubah tentunya sangat rawan godaan dan gangguan dalam penjagaaan keistiqamahannya berinteraksi dengan Al –Quran.
Salah satu dengan mengetahui manfaat yang akan kita peroleh dalam interaksi kita dengan Al –Quran. Di antara manfaat membaca Al –Quran adalah, ia termasuk seutama-utama ibadah umat Muhammad, nilai pahalanya berlipat ganda, memberi syafaat bagi yang membacanya di hari kiamat, juga menjadi cahaya di dunia dan simpanan di akhirat.
Tadabbur Al – Quran bukan hanya ibadah yang bernilai tinggi,namun juga menjadi terapi kejiwaan yang manjur. Karena saat itulah turunlah malaikat dari langit memberikan rahmat dan ketenangan. Maka, ialah obat penawar bagi jiwa yang gelisah dan resah, pikiran kusut, dan nurani yang gundah gulana. Allah berfirman, “Dan kami turunkan dari Al- Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman...” (Q.S. Al- Isra : 82)
Abdullah bin Mas’ud pernah menasehati seorang yang gelisah agar pergi ke tempat orang-orang yang sedang membaca Al-Quran, atau membacanya sendiri.Adapun cara yang lain untuk menjaga energi iman kita adalah dengan membentuk halaqah zikir untuk membaca Al –Quran. Dengan mencari ketenangan dan rahmat dalam taman surga dengan menjadi tamu Allah, untuk menyantap hidangan bergizi lagi lezat, ayat-ayat Al – Quran. Inilah majelis kebanggaan Allah di hadapan para malaikat, sebagaimana sabda bagida Rasulullah “ Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah dari rumah-rumah Allah dalam rangka membaca dan tadarus Al –Quran, keculai mereka di anugaerahi ketenangan, diliputi rahmat, di kerumuni malaikat, dan di baganggakan Allah di hadapan para malaikat.”
Rasakan sentuhannya. J J J
Karena Al –Quran adalah ruh yang menggerakkan jiwa, kini mari kita tenangkan hati dengan mendengharkan Al –Quran yang di baca dengan suara merdu dan indah. Insyaallah akan muncul ketenangan, keyakinan, kesejukan, dan kedamaian di dalam hati kita. Kemudian jiwa kita akan terbang ke langit menikmati santapan lezat seharum kesturi ini. Rasulullah saw bersabda “Barangsiapa membaca Al –Quran, sesungguhnya dia telah melangkahkan naik menuju derajat nubuwah di kedua sisinya, hanya saja tidak di berikan wahyu kepadanya.” (HR. Kasturi)

Ya Allah, izinkan kami merasakan sentuhan firman-firman-Mu, dan janganlah Kau jadikan hati-hati kami keras membatu! by : @destya11 (in Twitter)

Agar Mudah Memaafkan

Sebuah hal yang lumrah terjadi ketika berkumpul dengan orang banyak, memungkinkan terjadinya gesekan antar pribadi. Rasa kesal, tidak cocok, atau tersinggung oleh perilaku dan kata-kata orang sangat sering terjadi. Bahkan tidak jarang meninggalkan “luka” yang dalam di hati. Membuat kita “mengambil jarak” dengan orang tersebut. Atau malah menjauhinya.
Apakah itu berarti telah terjadi kesalahan sehingga membuat kita malas, atau balik tidak mau memaafkan. Jangankan memaafkan, yang melakukan kesalahan saja tidak merasa bersalah, boro-boro minta maaf.
Perlu disadari bahwa manusia di lahirkan dalam berbagai macam karakter dan sifat. Belum lagi lingkungan, pendidikan, latar belakang sosial yang memungkinkan terbentuknya keragaman kepribadian manusia. Nah, ketika pribadi-pribadi yang berbeda itu saling berbenturan, sengaja atau tidak sengaja, apakah itu di anggap sebagai sebuah kesalahan yang membuat kita enggan untuk memaafkan??? Tentu saja tidak. Kurang bijaksana kiranya jika keragaman-keragaman karakter itu membuat kita menyalahkan orang lain kemudian enggan memaafkan.
Allah berfirman, “ Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintahnya-Nya.” (Q.S. Al-Baqarah : 109)
“Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang di antaramu dan dia antara dia ada permusuhan seolah-olah telh menjadi teman setia,” (Q.S. Fushilat : 34)
Baiklah, tidak menutup kemungkinan ada kesalahan-kesalahan yang sering muncul dalam hubungan manusia. Namun, tidak adil jika setiap gesekan yang bermula dari perbedaan karakter dianggap sebagai kesalahan yang pantas di timpakan untuk orang lain.
Diperlukan kesabaran dan kelapangan hati untuk menerima, termasuk menyiram amarah dan kecewa yang terlanjur muncul di dalam hati. Butuh proses untuk belajar memaafkan. Ya, butuh kesabaran, terutama untuk belajar memaafkan.
“Tetapi orang yangbersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang di utamakan,” (Q.S. Asy-Syura : 43)
Hal paling ringan agar mudah memaafkan adalah memandang segala sesuatu secara objektif, proposional. Jika kita terluka oleh kata-kata orang lain, maka bukan tidak mungkin, tanpa kita sengaja, kata-kata kita pun telah menyinggung orang lain. Jika kita kecewa dengan perlakuan orang lain, maka sudah seharusnya kita berpikir ulang, mungkin ada pula perlakuan kita yang mengecewakan orang lain. Dengan demikian apakah kita akan terus menyimpan rasa kecewa, sakit hati, kesal atas “kesalahan-kesalahan” orang lain, dan tidak memaafkannya?? Kita patut berhati-hati, jangan-janagn banyak orang yang kecewa, sakit hati, kesal atas “kesalahan-kesalahan kita” dan sulit memaafkannya.
Nabi saw bersabda : “Tidaklah Allah menambahkan bagi seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan dan tidaklah seseorang merendahkan hati (tawadhu) secara tulus karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Bukhari).

Semoga kita menjadi pribadi yang mudah memaafkan. Amin.
by : @destya11 (in twitter)

Ketika Allah menegur dengan Rahman-Nya.

Kehidupan tidak akan terlepas dari kebahagian dan kesedihan. Dua hal ini tidak lepas pula dari syukur dan sabar. Ketika manusia ditimpa dengan sebuah takdir yang di rasa “buruk”, kebanyakan mereka tidak redha menerima takdir itu. Padahal segala takdir Allah adalah terbaik bagi hamba-hamba-Nya.
Sebuah musibah yang kita alami seringkali tidak kita sikapi dengan keredhaan, bahkan ada banyak manusia (ketika mendapat musibah) cenderung berkeluh-keluh dan menganggap Allah “ Kejam” dan menganiaya hamba-Nya, Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan.
Padahal sama sekali TIDAK. Segala keburukan yang menimpa manusia adalah perbuatan manusi itu sendiri.
Segala keburukan yang kita terima adalah bagian dari takdir Allah, dan Allah lah paling mengetahui kebaikan untuk hamba-Nya. Namun kebanyakan orang tidak menyadari bahwanya musibah itu adalah sebuah teguran kecil dari Allah agar hambanya-Nya segera bertafakur, bermuhsabah, dan bertaubat.
Karena sesungguhnya ketika dunia telah penu dengan fitnah, maka Allah memberi peringatan : “Betapa banyaknya negeri yang telah kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduknya) di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di siang hari.” (Q.S. Al –A’raf “ : 4)
Kebanyakan manusia tidak mau menilai dirinya sendiri, apakah ia selalu taat kepada Allah dan sama sekali tidak pernah bermaksiat???
TIDAK sama sekali tidak, adakalanya iman itu turun dan ketik itu pula “mungkin” ia bermaksiat kepada Allah.
Bahkan, manusia di luar sana banyak yang BANGGA dengan kemaksiatan yang mereka lakukan, hingga tidak malu lagi untuk melakukan maksiat itu secara terang-terangan. Fitnah telah merebak di mana-mana, para pendosa telah bangga dengan dosa-dosanya.
Inilah yang menjadi sebab utama hingga datang teguran Allah. Teguran itu adalah bentuk RAHMAN Allah kepada hamba-Nya, agar mereka segera memperbaiki diri.
Seorang yang mengaku dirinya beriman, ketika di timpa “keburukan” hendaknya bersegera untuk melakukan ketiga hal di atas (tafakur, muhasabah, dan taubat) karena....
“Kecuali orang-orang bertaubat, beriman , dan mengerjakan amal-amal sholeh, maka kejahatan mereka di ganti Allah dengan kebajika..” (Q.S. Al – Furqan: 70)
Saat ini, ketika kita di timpa berbagai takdir yang tidak sukai, hendaknya kita memperbanyak istighfar dan berazam untuk berusaha mencegah kemunkaran yang ada. “ Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran hendaknya ia mengubah dengan tangannya, Jika tidak sanggup maka dengan lisannya, Jika tidak sanggup maka dengan hatinya. Itu adalah selemah-lemahnya iman.” (H.R. Muslim)

Jika kita diam saja, maka tunggulah azab Allah yang lebih keras lagi pedih. Wallahua a’lam bish shawwab.

Bekal Terbaik

Betapa kita berusaha menolak kehadiran Allah, Dia tetap melihat dan mengawasi semua perbuatan kita. Dia berfirman, “ Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya” (Q.S. Al – ‘Allaq : 14)
Allah tidak akan lupa, tapi kita? Inilah ujian bagi hati kita tentang keagungan Allah. Bisakah hati kita tidak bingung memilih yang akan dia agungkannya, kemudian berpaling dari- Nya? Padahal pengagungan kepada Allah-lah yang akan membuatnya merasa nyaman, karena merasa selalu terawasi.
Perasaan ini adalah hasil paling mengesankan dari ma’rifat hamba tentang pengawasan, penglihatan dan pendengaran Allah terhadap setiap aktivitasnya. Ucapan, perbuatan, bisikan hati, bahkan hembusan nafas dan kedipan mata. Allah berfirman, “...Dan ketahuilah, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati kalian, maka takutlah kepada-Nya...” (Q.S. Al Baqarah 235)
Jika Iman adalah pohon, maka muraqabah adalah buah yang paling manis dan menyehatkan. Paling berharga karena layak barter dengan penjagaan Allah atas diri kita. Wujudnya bisa berupa penjagaan terhadap maslahat dunia seperti; badan, anak, keluarga, dan harta, bahkan hewan.
Seperti Abu Ath- Thayyib yang berusia lebih dari 100 tahun namun masih mampu meloncat dengan kuat.Dia berkata, “Organ tubuh ini saya jaga dari berbagai maksiat saat remaja, kemudian saat saya tua, Allah menjagany bagi saya.”
Seperti Sa’id bin al-Musayyib yang berkata kepada putranya , “ Aku pasti menambah shalatku, yang dengan shalatku itu, aku berharap engkau di jaga (Allah).’
Seperti Ibnu al-Munkadir yang berkata, “Sesungguhnya, Allah pasti menjaga dengan keshalihan seorang anak-anaknya, cucu keturunannya, dan rumah-rumah di sekitarnya.”
Atau Ibrahim bin Adham yang tak pernah tidur di kebun, sementara di sisinya ada seekor ular dengan seikat bunga di mulutnya. Dan ular itu terus menjaganya sampai di bangun.
Bisa juga penjagaan terhadap agama dan iman kita, dari berbagai syuhat menyesatkan dan bermacam syahwat yang terlarang. Juga kematian yang suul khatimah.
Seperti firman Allah tentang Yusuf as, “Demikianlah, agar kami memalingkan kemunkaran dan kekejian daripadanya. Sesungguhnya Yusuf termasuk hamba-hamba Kami terpilih.”
Juga seperti perkataan Ibnu Abbas, “Allah memberi batas antara hamba yang beriman dengan maksiat yang akan menyeretknya ke neraka”
Maka marilah kita titipkan agama kita kepada Allah, sebab Rasulullah pernah bersabda, “ Sesungguhnya jika Allah dititipi sesuatu, Dia akan menjaganya.” Dan Inilah satu-satunya pilihan, agar Allah tidak membiarkan kita tersesat berjalan dan pohon iman kita kering tak berbuah. Seorang salaf pernah berkata, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, sunguh dia telah menjaga dirinya. Barangsiapa menyia-nyiakan takwanya, sungguh da telah menyia-nyiakan dirinya, dan Allah tidak lagi membutuhkannya.”

Ya, puncaknya adalah takwa, karena ia adalah sebaik-baiknya bekal. Dengarkan firman Allah, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang takwa dan berbuat kebaikan.” (Q.S. An-Nahl :128). Wallahualam.