Jumat, 27 Desember 2013

Serapuh Hati Tanpa Keyakinan (Cerpen)

“Assalamualaikum”.
Kujabat tangan akhwat karibku satu persatu. Tidak ada yang mau ketinggalan jam pertama pagi ini, takut sama dosennya yang killer. “Reva kemana, kok belum hadir?” tanyaku. Tapi tidak ada yang tahu. Biasanya jika diantara kami tidak hadir kuliah selalu memberikan informasi pada yang lain.
Jama delapan tepat, dosen masuk dan langsung memberikan kuliah. Suasana kelas pun berubah. Semua mata tertuju pada layar proyektor, meski ada yang sambil berjuang menahan kantuk. Sementara konsentrasiku sedikit terganggu dengan perasaan yang bertanya-tanya. Kepada Reva???
Kami adalah sembilan bersahabat. Di atas jalan-Nya Kami bersaudara dan bertekad menyempurnakan ketaatan. Alhamdulillah, Allah Ta’ala menunjuki kami pada akidah dan manhaj salafush shalih. Kami berusaha untuk melazimkan sunnah dalam keseharian. Banyak yang mengatakan kami eksklusif dan ekstrim. Mereka memandang sinis pada kami karena pakaian dan cara pergaulan kami. Ada saja sindiran melecehkan. “Awas, manusia kelelewar leawat!” atau “Bau surga nih!”, dengan es-be. Ya...mungkin inilah resiko jika ingin berkomitemen dengan syariat. Lagian boleh jadi karena mereka belum paham. Kami berusaha sabar dan sebisa mungkin menjelaskan terutama kepada mahasiswi yang mengaku muslim tetapi memilih ‘gaul’ dalam berperilaku dan berpakaian.
Dua jam kuliah berlalu, tak banyak waktu terbuang dari awal sampai akhir. Soal paham atau tidak, itu masalah lain. Ya... begitulah mungkin standar dan gaya pendidikan kita. Yang penting target beban silabus terpenuhi, Selesai! Kelas tanpa hati..! Mahasiswa berhamburan keluar, padahal dosen belum beranjak mengemasi bahan kuliah yang baru sampai di sampaikan. Seperti biasanya, kami memilih keluar terakhir agar tak perlu berdesakan. Setelah semua keluar, di barisan kursi bagian depan ada sesosok wanita berjubah serba gelap lengkap dengan cadar. Mungkin dia tadi masuk kelas agak mepet dengan waktu mulai jam kuliah. Kami menduga dia adalah senior yang mengulang mata kuliah. Terdorong ingin menyapa, saya menghampirinya.
“Assalamualaikum, ukty” Sapaku sambil menjabat tangannya/
“Waalaikumsalam warahmatullah.” Jawabnya.
Saya mencoba memperhatikan matanya, siapa tahu saya bisa mengenali wajah di balik cadar itu.” “Kenapa, ukhty? Kaget ya? Saya Reva. Lho.”,katanya.
Spontan saya kaget bukan main.
“Betul, Kamu Reva?”, tanyaku hampir tak percaya.
Dengan lembut ia menganggukkan kepala. Saat itu saya langsung memeluknya sambil tak henti mengucapkan syukur dan memuji Allah Ta’ala. Tak terasa air mata mengalir membasahi jilbabnya. Sahabatku yang lain ikut menangis dan turut memeluknya.
Reva berbisik lirih , “Doakan ya ukty, agar saya istiqamah selalu”
“Amin...Insya Allah!, jawabku.
Reva yang cukup pandai berargumen jika berdiskusi mengenai islam, walaupun jawaban-jawabannya lebih sering dilandasi pendapat akalnya, Reva yang saya kenal sebagai mutarabbi salah satu liqo’ di sebuah jama’ahnya terdahulu, Reva yang di abtara kami ber-sembilan, dialah yang masih cenderung bebas dalam bergaul dan berpakaian, Reva yang terbiasa dan longgar dalam bergaul dengan lawan jenis, saat ini dia telah berubah. Ia menjelma menjadi seorang akhwat yang rajin mengikuti ta’lim dan kegiatan dAkwah lainnya.
Waktu berlalu beberapa minggu, Reva semakin dekat denganku. Ia sering mabit di kostku dan sering curhat tentang keadaannya. Kami saling menasehati dan memberi dorongan satu sama lain untuk tetap istiqamah. Kami selalu berusaha hadir bersama dalam kajian, seminar, bedah buku, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Setiap ada informasi kegiatan, kami selalu ingin menjadi yang pertama hadir di majelis-majelis tersebut. Kami seperti orang yang kehausan ilmu, dan yang demikian makin mempererat hubungan kami.
Selang beberapa minggu kemudian, Reva tambah sering menginap di kost saya. Reva datang dengan membawa cerita-cerita tentang keadaannya semenjak ia memakai pakaian syar’i.. Ternyata  keluarga dan kerabatnya menolak keras pilihannya. Menurut mereka, pakaian seperti itu identit dengan apa yang mereka sebut “Teroris”. Sejak keluarganya tahu, semua biaya hidup dan kuliahnya di hentikan. “Sabar ya Ukty, kemudahan pastikan datang. Ujia tak kan selamanya. Hanya sekejap kemudian lewat, jika saja kita tetap bertahan. Jangan pernah menyerah!”, Saya mencoba menasehatinya. Untuk beberapa hari kemudian, Reva masih bertahan.
Pada malam berikutnya Reva datang lagi dan menyatakan ingin tinggal di kost untuk beberapa hari. Ia mengatakan sudah tak punya uang lagi. Jangankan kuliah, sedangkan untuk makan saja sudah tiada yang tersisa. Saya tidak menyangka ada orangtua yang setega itu.
“Untuk apa saya berpakaian begini, kalau saya harus mati kelaparan. Lagian gara-gara pakaian ini, saya tidak bisa pergi ke tempat-tempatyang saya senangi, pergaulanku jadi terbatas, kuliahku terhambat, dan segala macam kesulitan harus saya tanggung!”jawabnya setelah mendengar nasihat saya. Tidak saya sangka ia kan berkata seperti itu.
“Astaufirullah..., beristighfarlah ukhty atas apa yang barusan kau ucapkan. Ini semua adalah ujian dari Allah. Sabarlah! Innanashrallahi qariib!” Saya berusaha menasehatinya lagi.
“Hah, persetan dengan semua itu, buktinya mana pertolongan Allah?  Mana kemudahan yang di janjikan Allah?” Katanya dengan mata memerah. Emosinya semakin tak terkendali, hampir saja hali itu juga memancing emosi saya. Tapi saya berusaha untuk tetap bersabar menghadapinya. Sampai akhirnya kami tidur dengan membawa pikiran masing-masing.
“Benarkah yang di depan pandanganku itu adalah Reva?” dalam hati saya bertanya. Saya usap mata berkali-kali. Dari kejauhan ia nampak menggunakan pakaian yang ketat dan seronok. Benar, ia adalah Reva. Tapi di man gerangan pakain syarinya kemarin. Bahkan bekasnya sudah tidak keliatan lagi. Hampir saja saya tak percaya yang di depanmataku adalah Reva, sahabat yang sangat kusayangi di atas jalan Allah ini. Saya coba mengingatkan lagi, tapi justru umpatan kembali berhamburan dari lisannya. Sejak saat itu ia semakin jauh dariku.
Hari demi hari saya saksikan bagaimana Reva sekarang. Selalu terbayang semua kenangan yang pernah kami lalui. Saat-saat bermajelis bersama, saat-saat menghadiri kegiatan keislaman bersama-sama, saat-saat berdiskusi bersama,curhat...semua itu tinggal kenangan. Entah sekarang, dia sibuk di mana dan dengan siapa. Saya hanya bisa bergarap, semoga Allah mengembalikan Reva ke atas jalan-Nya.

Ya Allah, Engkaulah dzat yang membolak-balikkan hati. Tetapkan hati ini dalam agama-Mu, dan berilah kami kekuatan agar bisa istiqamah dalam agama-Mu. Dan janganlah Engkau cabut hidayah ini. Karena jika Engkau mencabutnya, maka pastilah hamba menjadi orang yang sangat merugi.

Kamis, 26 Desember 2013

Saatnya Berbagi


Bagaimanapun, mutiara tetaplah indah, sutra tetaplah halus, madu tetaplah manis dan misik tetaplah wangi. Kecuali kita menimbunnya dengan lumpur, menyentuhnya dengan jemari lumpuh, meminumnya dengan racun, atau mencampurnya dengan bau bangkai.
Seperti itulah kebaikan. Seperti namanya, ia akan memberikan sejuta manfaat bagi siapa saja yang menemuinya. Karena ia adalah pohon yang seketika berbuah. Kilaunya yang indah, sentuhannya yang halus, rasanya yang sedap, dan aromanya yang wangi, menentramkan perasaan, menenangkan pikiran, melapangkan dada dan mendamaikan hati. Dan yang pertama kali merasakannya adalah yang melakukannya. Itu berarti kita, saya dan anda atau mereka yang ada di sana.
Maka, inilah saatnya berbagi. Memberi sedekah kepada si miskin, menolong yang teraniaya, meringankan beban yang menderita, memberi makan orang yang lapar, menjenguk yang sakit, membantu yang membutuhkan dan memohobkan ampun bagi para pendosa. Terutama saat kita di landa resah gelisah! Berbuat kebaikan kepada sesama adalah pencerahan jiwa, yang tidak akan pernah kita sesali.
Ya, Karena kita adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam kehidupan ini. Kita harus mengekspresikan ‘jiwa sosial’ itu secara benar. Dan untuk itu kita harus selektif memilih. Tidak semua bentuk interaksi terpuji dan di ridhai, sebab ada pula bentuk interaksi yang di murkai. Hanya membuahkan dosa dan permusuhan.
Karena itulah islam mengarahkan kaum Muslimin agar secara selektif berta’wun dalam kebaikan dan ketakwaan, berpadu dan menyatukan barisan. Semua itu, selain bentuk penyaluran peran sosial, juga adalah bentuk penanaman rasa cinta kepada sesama dengan benar. Kemudian mendahulukan kepentingan mereka di atas kepentingan pribadi dan cinta sendiri.
Maka, kita tidak heran pada penelitian Sigerman pada 1997, yang menemukan, bahwa berinteraksi dengan komunitas terbesar dapat meningkatkan kebahagiaan manusia hingga 30 %. Sedang dalam penelitian lain di temukan, individu bersosial secara terbuka, cenderung lebih puas dalam hidupnya sekitar 24 % di banding yang tidak berbuat demikian. Sementara Rasul menyebutkan bahwa kebaikan adalah penentraman jiwa.
Pola-pola interaksi sosial yang sehat seperti inilah yang akan melemahkan emosi marah, benci, permusuhan, dan kezhaliman. Di samping bentuk-bentuk pencarian kebahagian inderawi semata, yang semu dan individualistik, karena menjauh dari Allah dan melawan fitrah. Menghilangkan perasaan terpencil dan tertolak yang sangat menyesakkan dada dan membebani pikiran. Menggantikannya dengan pola-pola kasih sayang, cinta, pengorbanana, dan kesetiaan. J


Bahkan Meski Hanya Satu

Karena ada cinta dan benci di dalam hati, ia memberi rasa. Juga menumbuhkan keinginan. Rasa yang membuat hati berpihak pada kebenaran atau kebatilan, dan keinginan yang menjadi pondasi setiap tindakan. Rasa dan keinginan yang menggerakkan.
Tapi kita, adalah makhluk sosial. Yang tidak pernah sendirian. Yang dalam keberpihakan dan pilihan suara hati ke alam nyata. Kita tidak ingin keliru, sebab itu menyamankan. Dan ini sangat manusiawi.
Maka kebenaran, meski sepi pengikut, tidak akan pernah tidak ada pembelanya. Meski ibarat menggenggam bara, yang panas membakar dan membuat luka jiwa dan raga. Pun kebatilan yang nampak nyata, tidak pernah nihil dari pemujanya. Bahkan seringkali melimpah ruah. Yang karenanya tampak indah.
Adakah yang lebih  baik, dari hamba yang selalu mencoba setia kepada Allah dalam keberpihakan hati dan pilihan amal shalihnya? Bahkan ketika memilih sahabat dalam menjalani hidup! Sebab hati kita yang rapuh dan mudah merubah, membutuhkan penolong dan penopang saat menggenggam bara itu. Agar cinta kita kepada kebenaran ini tidak goyah dan berubah. Teman-teman yang shalih adalah unsur penguat yang bermanfaat.
Teman-teman yang shalih adalah juga berkah kehidupan. Bersama mereka langkah-langkah kaki menjadi mantap saat merenungi ayat-ayat Allahdan mereguk hikmah kehidupan. Jiwa tenteram menjalani ujian ibadah yang nampak melelahkan. Juga hari-hari yang berlalu, jauh dari kesia-siaan. Karena pada diri mereka ada makna kebaikan dan kebahagiaan, tanda kebajikan dan kebenaran.
Teman-teman shalih adalah tongkat penuntun di saat lemah, pelita dalam gelap, pencuci jiwa dari kerak-kerak dosa, pemutih hati dari warna-warna jahiliyah, juga peluntur kilau perhiasan palsu dunia yang membuat hidup terasa nyaman dan nikmat karena ketulusan hati dan kasih sayang sejati yang mekar bersemi.
Bersama mereka, kebaikan di tebar sepanjang waktu. Hingga kita tak lagi harus menunggu. Untuk menjadi baik! Sedang kebaikan adalah perisai diri dari kejahatan dan keburukan.
Maka saat kita di benci, dikucilkan, dicemarkan, dipersulit, dianiaya, dan bahkan di usir karena berpihak pada kebenaran, kita tidak boleh sendiri. Kepada merekalah seharusnya kita kembali, sebelum rasa hati kita khianati. Karena merekalah hiburan dalam kesedihan. Tenaga tak berdaya.
Teman shalih adalah karunia Allah dalam hidup kita. Bahkan meski hanya satu, sebab serigala hanya memakan daging domba sendirian. Tapi, di manakah dia kini??? Wallahualam...!



Mencari Air Dalam Api

Adakah kebenaran bisa di tolakkan, bahkan setelah semua bukti-bukti pendukungnya hadir tak terbantahkan? Sufyan bin Uyaniyah menjawab : Bisa. Mungkin karena hawa nafsu, atau mungkin karena kesombongan. Bukankah tidak ada pembuktian sejelas dan segamblang bayan para nabi dan rasul? Lewat lisan mereka, kebenaran dibentangkan di hadapan manusia seterang mentari kemarau di siang hari. Jelasnya mengalahkan semua logika penolakan. Panasnya membakar semua keraguan.
Tapi ini adalah tentang kalbu yang berpenyakit. Yang keliru niat karena keruh oleh kotoran-kotorannya yang mengerak, ujub, iri, dengki, riya’. Menjadikannya gagal mengenali hakikat diri dan gagal mendudukkannya dengan tepat. Bashirahnya menumpul, pikirannya membeku, dan dadanya membusung.
Bermula dari kagum terhadap diri sendiri, merasa besar dan pintar, hebat, dan kuat, kemudian meremehkan manusia yang lain dan menolak al-haq (kebenaran). Manusia-manusia sombong merasa, merekalah standar kebenaran dan keadilan. Apalagi jika al-haq itu, menurutnya menyinggung harga diri, merendahkan martabat dan merugikan dunia. Maka, berpaling dan ingkar adalah sebuag keniscayaan. Mereka tolak al- haq dengan rasio terbatas, analog ngawur, perasaan yang salah atau kepentingan politik.
Apa makna kebenaran bagi manusia-manusia ‘hebat’ ini, jik hukum Allah bisa di lawan dan ajaran rasul bisa di dustakan? Malah, ketika itulah mereka merasa telah menjadi besar dan istimewa! Bukankah mereka adalah sentral kebenaran itu sendiri? Mereka terkena sidrom megalomania! Maka mereka seperti nerakan yang bangga karena berpenghuni manusia-manusia sombong. Atau sperti iblis yang menolak taat kepada Allah. Ketundukan kepada hukum Allah dan ajaran Rasulullah adalah tabu dan perbuatan memalukan. Astagfirullah!
Masihkah penjelasan berguna lagi, jika bagi mereka semua itu tidak pernah ada? Mereka pun gagal bertawadhu’, sebab ruh tawadhu’ adalah penerimaan dan ketundukan kepada al – haq. Maka surga menjadi haram bagi mereka, sebab ia adalah negeri para penyambut dakwah nabi. Bukankh Rasulullah pernah menyatakan, bahwa tidak akan masuk surga, manusia yang memiliki kesombongan di hatinya meski sebesar biji saw? Naudzu billahi min zalik.
Jika mereka merasa terhormat, mulia dan bebas karena penolakan kepada al-haq, maka mereka salah. Salah besar! Mereka telah menempuh jalan yang salah,dan karena itu yakinlah mereka tidak akan pernah mencapainya, meski puji-puji sesama manusia sombong meninggi dan sebutan mereka harum mewangi. Untuk mereka, Allah telah berfirman, “ Aku akan memalingkan orang-orang yang sombong di muka bumi tanpa alasan yang benar dari ayat-ayat-Ku”
Itulah tipuan dan jebakan setan. Ibrahim bin Syaiban pernah berkata, “ Kehormatan ada dalam tawadhu, kemudian ada dalam takwa, sedang kebebasan ada dalam qanaah.” Maka mencari kehormatan dan kemuliaan dari kesombongan, adalah seperti mencari air dalam api, MUSTAHIL ada!!! Wallahualam...


Jangan Memakan Bangkai.

Masih ingat Sumanto “Si Kanibal” yang konon memakan tiga bangkai manusia? Tentu tak satu pun dari kita yang akan meniru melakukankannya. Memakan bangkai manusi! Tapi, sadarkah bahwa kita sering berlaku lebih menjijikkan sari sumanto? Menggunjing sesama muslim, sebagaimana firman Allah, “....Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya....” (Q.S. Al-Hujurat : 12)
Setiap orang yang waras tentu jijik memakan bangkai manusia, terlebih lagi bangkai saudaranya. Walau demikian, tanpa kita sadari, perbuatan tersebut sudah menjadi hal biasa. Bukankah menggunjing orang lain sama dengan memakan daging orang yang sudah mati?? Nauzubillahi min zalik.
Suatu hari ada sahabat yang bertanya kepada Rasulullah saw tentang menggunjing (ghibah), maka beliau menjawab, “Ghibah adalah menceritakan tentang perihal saudarmu terhadap apa ia tidak sukai.” Lalu orang itu bertanya lagi, “Bagaimana jika apa yang saya ceritakan memang benar ada pada dirinya?” Maka beliau bersabda, “Jika yang ada pada dirinya seperti apa yang kamu ceritakan, maka engkau telah meng-ghibahnya, namun jika pada dirinya tidak seperti apa yang engkau ceritaka, maka engkau telah berbuat kebohongan terhadap dirinya.” (H.R. At-Timidzi)
Imam an-Nawawi merinci bahwa yang termasuk ghibah adalah menceritakan seseorang dengan sesuatu yang tidak disenanginya, sama saja apakah hal itu menyangkut masalah dirinya, agamnya, dunianya, jiwanya, fisiknya, akhlaqnya, hartanya, anaknya, orangtuanya, istrinya, pembantu, dan budaknya, sorbannya, pakaiannya, cara jalannya, gerakannnya, senyumannya, raut mukanya, atau selain itu semua yang menyangkut perihal seseorang, baik dilakukan dengan mencibirkan bibir, menyebutkan dengan tulisan, mengisyaratkan dengan mata, tangan atau kepala dan semisalnya.” (al-Adzhar : 476)
Bukankah Rasulullah saw pernah menegur istri yang paling beliau cintai, Aisyah ketia menyebutkan tentang fisik istri beliau yang lain  (Shafiyah) bahwa ia adalah seorang yang bertubuh pendek, lalu beliau bersabda, “Sungguh perkataan yang engkau ucapkan jika di campur dengan air laut niscaya ia akan menjadi busuk.” (H.R. At – Tirmidzi)
Padahal air laut itu tidak akan berbau busuk karena memiliki kadar garam yang sangat tinggi. Hal ini menunjukkan betapa dasyatnya dampak negatif atau keburukan dari perbuatan ghibah itu.
Demikian ghibah itu, ia dapat meruntuhkan kehormatan seseorang yang digunjingkan, karena kehormatan itu buka hanya aurat, namun juga berupa celaan ataupun pujian. Ketika kita menggunjing seseorang, maka pada hakikatnya kita telah menggerogoti kehormatan sedikit demi sedikit. Jangan kita mengira bahwa haramnya zina dan riba lebih besar dari dosanya daripada berbuat ghibah yang dengannya dapat menodai kehormatan dan harga diri sesama muslim.
Tapi ada kalanya menceritakan perbuatan jelek seseorang itu diperbolehhkan dlam syariat Islam, sebagaimana yang di ungkapkan Imam an-Nawawi, yaitu untuk mengadukan kezaliman seseorang pada pihak yang berwenang, dalam rangka meminta fatwa, dalam rangka musyawarah, mencari jodoh, menyebutkan kejelekan seseorang yang terang-terangan berbuat dosa dan menyebut seseorang dengan gelar yang masyur/terkenal untuk dirinya. (Riyhadus Shalihin : 450-451)


Rabu, 25 Desember 2013

Al – Quran, Jangan Tukar Dengan Nyanyian.

Merasa khawatir kaum Quraisy akan terpesona oleh keindahan Al –Quran , si Kafir Abu Jahal meminta kepada Walid bin Mughirah untuk berkomentar miring tentang Al –Quran. Dia adalah raja penyair ketika itu, paling ahli dalam syair dan lagu. Baik syair jin maupun manusia. Tapi apa mau di kata, Walid justru tak sanggup menyembunyikan kekagumnnya terhadap Al – Quran. Ia berkata, “Apa yang bisa saya katakan..?” Lalu dia pun menggubah syair yang menyiratkan kehebatan dan ksempurnaan Al- Quran. Dari keindahan bahasa, kedalaman makna juga keagungan pesan yang terkandung di dalamnya.Pengakuan orang yang tetap tidak beriman karena khwatir akan jatuh pamornya di mata kaumnya yang kafir. Namun sayang, hari ini banyak kaum yang mengaku berimam justru tak lagi memandang takjud kepadanya, tak tertarik untuk menyimaknya, bahkan untuk sekedar  meliriknya. Pada saat bersamaan, mereka menjatuhkan pilihan pada nyayian murahan sebagai gantinya, yang tak layak di bandingkan dengan Al- Quran, terlebih menggatikan posisinya. Kebutuhan mereka akan nyanyian bahkan melebihi kebutuhan terhadap makan dan minum, . Tak Cukup hanya 3 kali sehari, hingga tidur pun dihantar nyayian.
Apa kiranya alasan mereka lebih enjoy mendengar nyayian daripada Al-Quran??? Lebih puas ketika mampu menghapal lagu daripada menghafal ayat-ayat Allah??? Karena keindahan bahasanya kah??? Demi Allah, tak ada bahasa yang mampu mengungguli keindahan Al –Quran. Atau karena isi lagu yang menyentuh??? Padahal ucapan sia-sia dan dusta bertaburan di dalamnya. Berbeda dengan kalamullah yang tak ada satu huruf pun yang sia- sia. Bertabur hikmah dan faedah tiada hingga. Dijanjikan pahala perhuruf bagi yang membacanya, apalagi yang mempelajari dan mengamalkannya. Adapun nyanyian dan lagu, apa yang bisa didapatkan darinya???
Tinggal satu alasan yang paling mungkin, mengapa mereka lebih memilih nyanyian daripada Al –Quran??? Yakni kendali hawa nafsu yang bertengger di hati dan pikiran mereka. Pengulangan sejarah teengah terjadi. Dahulu, orang –orang yang menyimpang berpaling dari Al- Quran yang di dakwahkan Nabi, lalu condong dan mengikuti para penyair yang suka mengumbar kata yang muluk-muluk, penghias bibir dan jauh dari realita yang mereka perbuat. Fenomena itu di abadikan kiahnya dalam Al- Quran.
“Dalam penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwanya mereka melihat mengembara di tiap-tiap lembah. Dan bahwanya mereka suka mengatakan apa yaang mereka sendiri tidak mengerjakannya?” (Q.S. Asy-Syu’raa : 224 – 226)
Bandingkan fenomena itu dengan realita hari ini, bukanlah nyaris sama dan sebangun?? Bedanya, road show dahulu dilakukan dari  lembah ke lemba, namun sekarang, dari kota le kota. Wallahu a’alam. (Abu Umar A)
Sumber : Majalah Islam Ar- Risalah
by : @destya11 (in twitter)

Menggali Warisan Nabi


Alunan surat Fushshilat yang di bacakan rasulullah sungguh memesona Abul Walid. Berlalu tanpa  sepatah kata pun terucap, dia segera kembali menemui kaum Quraisy yang tak sabar telah menunggu dalam gelisah. Kemudian sastrawan terkemuka itu beru , “itu buka syair, sihir, atau ucapan tukang tenung. Sesungguhnya Al- quran itu ibarat pohon rindang yang akarnya menghujam tanah. Susunan bahasanya manis dan enak. Itu bukan perkataan manusia, ia tinggi dan tidak ada yang akan mengatasinya”
Abul Walid menuturkan kesaksiannya akan keindahan gaya bahasa Al- Quran, meski hal itu menyakitkan hati kaum yang telah mengutusnya menemui Muhammad. Meski dia kafir, sentuhan ayat Al-Quran meluruhkan kesombongannya. Karen Al – Quran sejatinya adalah obat penawar yang komplit, mujarab, dan mengandungi banyak manfaat. Tidak ada obat yang semisal dari sisi Allah Ta’ala. Ialah sumber kekuatan, pelita dalam kegelapan, petunjuk, obat penawar, nasihat, berita gembira, rahmat, dan berkah bagi manusia. Ia mengangkat derajat suatu kaum dan menghinakan kaum yang lain.
Al- Quran bukanlah monumen mati. Catatan sejarah yang hanya layak disimpan, dilihat, dan dikunjungi setahun sekali kala  Ramadhan. Ia adalah monumen hidup sebab berbicara kepada jiwa. Menggetarkan hati, memberikan ruh dan menggerakkannya. Ia akan menambah keimanan bagi yang berinteraksi dengannya. Menjadikan nutrisi  bergizi bagi hati seluruh isinya. Namun sejujurnya, Al- Quran bukan lagi pusat perhatian kita, sebagaimana prediksi Nabi. Ia telah ditinggalkan manusia. Kita sibuk hingga waktu  untuk membacanya pun tiada. Atau kita telah membacakannya, namun tidak merenungi makna-maknanya. Atau membaca dan merenunginya, namun tidak mengamalkannya. Mestinya sebagai muslim kita malu, sebab tidak bisa sejujur Abul Walid yang notabene kafir.
Tapi bagaimana kita akan mengambil manfaat Al –Quran jika kita tidak pernah menyantapnya??? Atau mengerti kandungannya jika kita tidak pernah menyapa dan berbicara dengannya??? Sungguh, hiruk pikuk dunia dan hal-hal yang kita anggap ‘Lebih penting” menyita seluruh waktu milik kita. Aneka puisi dan syair, lagu dan senandung, fiksi dan film, permainan dan senda gurau, gosip, dan pembicaraan hampa, serta komentar dan pendapat manusia,ternyata lebih berarti bagi kita.
Mungkinkah semua ini karen hati kita memang telah telah tertutup sehingga gagal menangkap cahayanya, akal kitabeku sehingga gagal merenunginya, atau jiwa kita telah menyeleweng sehingga gagal merasakan nikmatnya???
Tidakkah kita yakin bahwa ia adalah satu-satunya petunjuk jalan lurus, sedang selainnya bengkok dan menyesatkan?
Ialah warisan Nabi terpenting yang harus kita buru! Keyakinan ini penting, sebab ia akan membangun benteng pertahanan dalam jiwa menghadapi gelombang kehidupan. Memberikan tenaga dalam upaya perburuan, juga santapan lezat saat kita kelaparan.
Sunggu, rongga dada yang hampa dari Al- Quran ibarat bangunan rusak, yang hanya akam menambah kerugian dunia dan akhirat.

Ya Allah, Izinkan kami menikmati warisan Nabi-Mu! J
by : @destya11 (in twitter)