Minggu, 05 Januari 2014

IF Your's Wife is A Teacher

Apa yang ada dibenakmu jika pada waktunya nanti jodohmu adalah seorang guru? Setiap hari tepat pukul 7 pagi, istrimu ini harus sudah berada di sekolah tempatnya mengajar. Mendidik anak didiknya tanpa pandang status sosial, entah dia anak pejabat, dokter, dosen, tukang sayur, sopir bus akan tetap dipandang sama. Jangan salahkan jika rumahmu nantinya akan penuh dengan anak- anak yang silih berganti membawa tas dan buku untuk belajar berhitung atau membaca. Riuh akan suara anak- anak yang memiliki semangat untuk maju. Mungkin ini akan berdampak pada waktu istirahatmu yang terganggu.
Jika kamu mengharapkan seorang istri yang menjanjikan materi sepenuhnya, jangan kau cari pada sosok guru ini. Ia jauh dari segala gemerlap materi dunia, ia sederhana dengan cinta yang dimilikinya. Cinta akan anak didiknya, cinta dengan pekerjaan yang ia geluti dan yang paling utama adalah cinta dengan keluarganya. Ia tak akan pernah melalaikan tugasnya sebagai seorang istri bagi suaminya dan ibu bagi anak- anaknya. Setiap pagi ialah yang akan bangun pertama kali menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Memasak menu makan siang walaupun raga telah lelah pasca mengajar,mengajarkan les tambahan untuk anak didiknya dan ia tidak akan melupakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga.
Setiap ibu adalah guru, dan ia tidak lupa akan perannya menjadi madrasatul ula bagi buah hatinya. Kau akan melihat bagaiamana ia mendampingi anak-anakmu tertatih membaca Al-Qur’an dan alphabet, bagaiamana ia dengan sabar mengajarkan berhitung dan menulis, bagaimana bunyi doa- doa sehari-hari yang tergolong sederhana dan lain sebagainya.Walaupun sebagai wanita karier, seorang guru memiliki waktu yang cukup banyak untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Ia mempunyai waktu untuk memperhatikan bagaimana buah hatinya tumbuh dan berkembang,.

Kau tak usah heran ketika dia seolah mengenal setiap orang yang dijumpainya, atau ketika tiba- tiba ada seorang anak yang mendekat dan mencium tangannya dengan malu- malu.Itulah resiko menjadi guru, sebagai panutan dan tuntunan bagi anak didiknya. Ketika dia mulai mengeluh dengan pekerjaannya, ketika sebagian dari siswanya belum bisa memahami pelajaran seperti yang ia harapkan, ia hanya ingin kamu kuatkan dengan senyuman atau genggaman yang menghangatkan. Asal kau tahu, mendidik anak orang lain itu tidak semudah mendidik anak sendiri, itu jauh lebih sulit dari yang Kau bayangkan. by @destya11 (in twitter)

Sabtu, 28 Desember 2013

Apa Kata Bintang?

Kaum remaja yang sok gaul, meski telah lengkap dengan busana, gaya rambut, dan asesoris, masih saja belum pede jika tidak melihat ramalan bintangnya di koran, tv, atau internet. Tentang nasibnyam, keuangan, asmara, dan hari baik. Seolah mereka yakin betul, bintangnya lebih tahuntentang masa depan hidupnya. Penyedia jasa ramalan pun semakin mudah di akses. Hotline telpon tarif premium banyak yang menjajakan “apa kata bintang” yang siap didengar kapan saja, dimana saja, oleh siapa saja.     
Warisan Kuno
Ramalan bintang, di sebut juga astrologi, menyandarkan pada peredaran bintang, planet, dan matahari pada orbit imajiner yang mengelilingi bumi. Ada dua belas jenis zodiak yang masing-masing memiliki rentang waktu satu bulan. Waktu ini di tentukan berdasarkan posisi bintang tersebut dengan matahari. Para astrolog percaya bahwa manusia dilahirkan di bawah naungan salah satu bintang tersebut yang bertindak sebagai pembuat karakter pribadi dan nasib manusia. Misalnya, seorang yang lahir 23 Oktober- 21 November ada di bawah naungan bintang Skorpio yang bersifat air dan di pengaruhi planet pluto.
Microsoft Encarta Reference Library 2003 menyebutkan, zodiak berasal dari dataran rendah Mesopotamia, daratan di antara sungai Tigris dan Eufrat, pada masa Babilonia kuno (Kini Irak Tenggara) kira-kira 2000 tahun sebelum masehi. Antara tahun 600 SM dan 200 SM, Mereka mengembangkan suatu sistem untuk menggambar horoskop perorangan. Orang Yunani dan Romawi memunyai andil besar dalam perkembangan astrologi. Sampai sekarang nama-nama Romawi bagi planet-planet itu masih digunakan.
Bintang Tak Pernah Tahu.
Praktek-praktek ramalan bintang warisan kuno tersebut juga berkembang pada zaman keemasan islam. Sehingga kita bisa mendapatkan komentar para ulama tabi’in tentangnya. Imam al-Bukhari di dalam shaihnya menyebutkan bahwa Qatadah berkata :
“Sesungguhnya Allah menjadikan bintang-bintang itu hanya untuk hikmah. Dia menjadikannya sebagai hiasan langit, sebagai penunjuk arah dan sebagai pelempar setan. Barangsiapa berpendapat selain itu, maka benar-benar telah berkata menurut pikirannya sendiri, salah persepsi serta memaksakan sesuatu yang tidak dia ketahui ilmunya. Sungguh, ada orang-orang yang tidak mengetahui agama Allah, mereka menjadikan bintang-bintang itu sebagai sarana untuk meramal. Seperti mengatakan barangsiapa yang menikah ketika posisi bintang anu di anu maka akan begini dan begini, barangsiapa yang melakukan perjalanan ketika posisi bintang anu di sini dan di situ maka akan begini....padahal bintang-bintang itu tak tahu menahu tentang perkara ghaib, begitu pun dengan binatang-bintang (yang dianggap orang tanda sia) dan juga burung. Jika ada makhluk-makhluk yang mengetahui perkara yang ghaib, tentulah Adam mengetahuinya karena dia di ciptakan Allah dengan tangan-Nya, Dia memerintahkan para malaikat bersujud kepada-nya, Dia memerintahkan para bersujud kepadanya dan Dia megajarkan kepada Adam nama segala sesuatu.”
Adapun ayat yang menunjukkan tentang tiga hikmah di ciptakannya bintang adalah firman Allah :
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan,” (Q.S. Al-Mulk : 5)
Dan Firman-Nya :
“dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk jalan.” (Q.S. An-Nal :16)
Katakan : “AKU TAK PERCAYA!”
Boleh percaya boleh tidak, begitulah bunyi provokasi halus untuk berkilah dari tuduhan syirik dan khufarat. Adapun kita, mestinya dengan lantang mengatakan tidak percaya. Bukan saja karena banyak ramalan yang tidak “nembus” , atau bahasa astrolog yang terkesan samar dan menggunakan bahasa umum sehingga bisa ditafsirkan macam-macam oleh konsumen, akan tetapi karena ilmu nujum itu termasuk cabang dari ilmu sihir yang dilarang. Nabi saw bersabda :
“Barangsiapa yang mengambil sesuatu dari ilmu nujum, maka sungguh dia telah mengambil satu cabang dari sihir.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad.)
Astrolog yang meramal dengan bintang, di hukumi sama dengan dukun dan paranormal, barangsiapa bertanya kepadanya maka shalatnya tidak terima selama empat puluh hari empat puluh malam, dan barangsiapa yang bertanya lalu membenarkannyam, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad saw.

Jika kita sedikit saja mau berpikir, maka tak ada alasan sama sekali untuk membenarkan segala bentuk ramalan, apalagi ramalan bintang. Sebab tak ada dasar ilmiahnya sama sekali. Para peramal hanya mendasarkan pada prasangkanya sendiri, tak didasari ilmu. Jika saja ada dan ini pasti tidak ada dasar ilmu yang mendasari, maka tidak akan ada penafsiran yang bertolak belakang antara satu peramal dengan peramal lainnya. Maka yang ada pasti ketidakcocokan antara ramalan dengan kenyataan. Masuk akalkah bila jumlah manusia yang hampir 5 milyar ini bisa diramalkan masa depannya hanya dengan 12 bintang??? Artinya setiap harinya ada 416.666.667 orang yang bernasib sama? Begitulah, kelakuan orang musyrik selalu bertentangan dengan fitrah yang suci, logika yang sehat dan nash-nash syari, Wallahualam... by @destya11 (in twitter)

Pakaian Dusta

Banyak manusia memuji kebaikan Daud at-Tha’i , mendengar semua itu Daud berkata, “Seandainya ,mereka mengetahui sebagian keadaan kami, niscaya tidak ada satu lidah pun yang sudi menyebutkan kebaikan kami selama-lamanya. “Sedang Muhammad bin Wasi’ berkata pada kesempatan yang lain,”Andaikan dosa-dosa itu mengeluarkan bau,niscaya tidak seorangpun yang sanggup hidup berdekatan denganku.”
Ucapan-ucapan luar biasa ini adalah cerminan kerendahan hati yang jujur. Kita bisa melihat di mana posisi kita di banding mereka. Kemudian lebih ‘tahu diri’ bahwa seharusnya kitalah yang lebih pantas merasa rendah di banding mereka. Karena kita sebenarnya jauh lebih berbau, namun tidak pernah merasa malu setiap kita membusung dan kepala kita membesar karena pujian.
Inilah kisah tentang hamba-hamba pilihan yang tahu dan menyadari cacat diri. Buah ma’rifat mereka terhadap pengawasan Allah yang sempurna. Yang mengawasi semua yang tersembunyi saat manusia hanya bisa mengawasi apa yang tampak. Yang mengawasi apa yang batin saat manusia hanya mengawasi yang lahir. Allah berfirma, “...Dan ketahuilah bahwanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya.”
Inilah rahasia itu. Bahwa kita tidak akan pernah bisa mengingkari kata hati akan pengetahuan Allah tentang siapa kita sesungguhnya, meski kita bisa menipu manusia sekitar. Namun sayang, kita tidak pernah takut kelak Allah akan membuka semua topeng. Padahal Dia telah berfirman, “ Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.”
Inilah yang membuat pujian dan kekaguman orang lain berharga sangat mahal. Menutupi pandangan dari pakaian dusta yang kita kenakan guna menampilkan citra diri palsu. Saat itulah ia menjadi jebakan manis yang berakhir dengan siksa di sisi-Nya. Belum lagi ‘perang’ yang selalu bergejolak dalam diri kita. Yang melahirkan kegelisahan dan menihilkan rasa aman karena hakikatnya tidak ada nilai baik, jika kita bisa menilai diri secara objektif. Konflik batin antara fakta bahwa kita menipu diri dengan rasa bangga beroleh pujian. Dan ini berlangsung selamanya.
Akan halnya hamba-hamba terpilih itu, mereka sadar tidak ada lagi tempat bersembunyi. Batin mereka selalu menghadirkan kesadaran penglihatan Allah, hal yang membantu mereka memunculkan taharruj (perasaan berdosa) dalam diri. Di samping membukakan pintu tawadhu’, keadaan ini akan membuat mereka mampu melawan kemauan yang salah dan memaksa diri melakukan hal-hal yang di benci hawa nafsu.
Pakaian hakikat yang nereka kenakan membuat mereka bisa sepeerti Yunus bin ‘Ubait yang berkata, “Saya menemukan seratus sifat baik, yang saya kira tidak ada satupun terdapat pada pada diri.” Bagaimana kita??? Wallahualam... by @destya11 (in twitter)


Jagalah AIB Saudaramu!!!

Suatu hari, ketika pulang dari kuliah kebetulan lewat di depan ibu-ibu yang sedang asyik ngobrol. Tidak sengaja, saya mendengar apa yang mereka bicarakan. Ya, apalagi kalau bukan membicarakan tentang berita yang sedang heboh di kampung ini. (Tentulah kejelekan orang lain). Begitulah mereka kalau kerjaannya sudah beres.
Kadang terbesit dalam pikiran saya mengapa kau hal negatif (aib) itu cepat sekali menyebarnya? Belum lagi kalau di tambah ini dan itu. Astaufirullah!
Manusia diciptakan oleh Allah tidak ada yang sempurna. Sebaik apapun atau sesempurna apapun seseorang pastilah ada kekurangannya. Itu sudah menjadi sunatullah. Begitu juga dengan aib. Pastilah setiap orang mempunyai aib. Kalaupun kita bisa menyembunyikan aib itu pasti akan kita simpan di tempat yang paling rapat, paling rahasia. Tak rela seorang pun mengetahui hal tersebut. Namun apakah kita bisa menyimpannua? Ya, mungkin terhadap manusia saja. Tapi kepada Allah...?
Kalau kita mengaku sebagai seorang muslim yang baik, maka hendaknya kita bisa menjaga aib sesama muslim. Sebelum berbicara lebih jauh tentang aib seseorang, hendaknya kita intropeksi diri. Bagaimana kalau menjadi bahan pembicaraan itu kita, teman baik kita, saudar atau keluarga kita??? Bagaimanakah perasaan kita???
Islam mengajarkan kita untuk saling menjaga aib sesama saudar. Rasulullah saw bersabda,
“Barangsiapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya baik di dunia maupun di akhirat.” (H.R. Muslim)
Bayangkan Allah yang akan menutupnya. Dan itu adalah janji Allah yang di jami pasti sellau benar. Karena kita tahu bahwa sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah. Sebenar—benar janji adalah janji Allah.

Dan ketahuilah bahwa orang islam adalah orang yang menyelamatkan orang-orang islam yang lain dari kejahatan tangan dan lidah.
by : @destya11 (in twitter)

Kekuatan Pikiran

Mungkin,kita pernah atau sering merasa kecewa dan menyesal terhadap apa yang telah kita lakukan. Baik karena perbuatan itu sebuah dosa dan maksiat, atau sebuah kebiasaan buruk yang sejujurnya ingin kita hilangkan. Namun setiap kalinya, hal itu terus terulang, dan kita terus merasa kecewa dan bersalah.
Pernahkah kita ingin berhenti merokok, makan berlebihan, menggigit jari-jari kuku, menunda pekerjaan atau mengulang pekerjaan atau mengulang perbuatan-perbuatan lainnya yang ingin kita hentikan? Alih-alih berhenti, keinginan untuk melakukannya mungkin malah semakit menguat.
Bukankah ketika berada dalam ruangan yang penuh orang asing, kita merokok untuk mengusir kegelisahan? Atau saat kita merasa stress, keinginan untuk makan banyak, mungkin berlemak manis, menjadi sulit di tolak? Demikian pula hal-hal lain yang terus berulang itu.
Sebenarnya, tidak ada manusia yang terlahir dengan kondisi seperti ini, memiliki begitu banyak kebiasaan buruk atau tidak efektif. Sebagaimana keahlian lain yang kita pelajari dalam masa pertumbuhan seperti berbicara, makan dan berjalan, kebiasaan-kebiasaan buruk juga kita pelajari dengan mengamati dan meniru orang lain karena terlihat bagus dan baik. Sehingga kita merasa senang,tenang dan nyaman saat mengulanginya.
Dalam perkembangnnya, kebiasaan-kebiasaan yang sudah terbentuk, baik maupun buruk, mengulang akan terus dipraktikkan meski alasan untuk melakukan tidak ada lagi. Bahkan ketika tidak ada lagi model untuk ditiru dan mengajak melakukannya, atau ketika ia tidak lagi mendatangkan perasaan nyaman.
Memang, saat melakukannya dulu, kita mendapatkan rasa nyaman dan tenang. Dan itu terekama dengan baik sebagai informasi di dalam otak kita. Sehingga setiap kali kita menghadapi situasi yang sama, otak kita menyarankan dan mendorong kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang familiar bagi kita. Otak menginformasikan bahwa tindakan-tindakan itulah yang terbaik untuk dilakukan guna mengurangi ketidaknyamanan.
Pertanyaannya sekarang adalah, Bagaimana cara mengatasinya?
Jawabnya (InsyaAllah), menggunakan kekuatan otak kita. Berpikir dengan cara berbeda dan merasakan hasilnya.
Marilah kita perhatikan, kebiasaan-kebiasaan buruk kita yang selalu berulang, sebenarnya karena kita tidak pernah (bersungguh-sungguh) ingin merubahnya. Kita bahkan tidak mencoba merubah cara kita berpikir tentang hal itu. Sehingga kalau tindakan-tindakan yang kita lakukan selalu sama, bagaimana hasilnya akan berbeda? Kita bisa berubah, hanya tidak tahu caranya.
Padahal jika kita berpikir dengan cara berbeda, hasil yang akan kita dapatkan juga akan berbeda, sebab tindakan-tindakan yang kita pilihkan berbeda. Faktanya, cara kita berpikir akan menentukan cara kita berkomunikasi dengan pihak lain dan bertindak. Perbedaan pola pikir akan menyebabkan perbedaan  tindakan-tindakan yang diambil, sehingga hasil yang akan didapatkan juga berbeda.
Mungkin kita belum tahu bahwa otak kita memiliki kekuatan dasyat yang bisa di manfaatkan untuk merubah kehidupan kita. Penelitian para ahli malah menunjukkan bahwa 96 % kekuatan otak ini masih di abaikan. Artinya, potensi otak manusia yang pernah di teliliti terpakai hanya sekitar 4 % saja.
Kekuatan otak ini ada dua, kekuatan berilmu dan kekuatan berkehendak. Dua kekuatan yang seharusnya kita manfaatkan, bukan sekedar kita ketahui. Yang pertama kekuatan berpikir, kekuatannya tergantung pada informasi (ilmu) yang masuk, pengalaman dan cara berpikir. Sedang kekuatan berkendak tergantung pada yakin, sabar dan keteguhan memegang prinsip.
Artinya, semakin sedikit ilmu yang kita miliki, berarti semakin sedikit kemungkinan kita menyadari kesalahan yang kita lakukan. Bukankah kesadaran akan kesalahan dari kebiasaan-kebiasaan buruk kita itu, karena ilmu yang kita dapatkan belakangan bahwa semua itu memang buruk adanya? Sedang mereka yang tidak berpendapat hal-hal itu sebagai sesuatu yang buruk tentu saja tidak akan merubahnya. Maka setiap kali kita berhenti mencari ilmu dan menggali informasi, berhenti pula kekuatan otak kita menyodorkan pilihan yang lain di luar kebiasaan kita.
Demikian juga, semakin sedikit pengalaman kebaikan yang kita dapatkan selama masa pertumbuhan, semakin berat perjuangan yang kita butuhkan untuk berubah. Bukankah kita sering gagal merasakan manisnya ibadah, semisal shalat dan qiraatul Qur’an karena terlanjur dengan senda gurau dan permainan?
Setelah pilihan berubah di tetapkan, tugas selanjutnya adalah mempertebal keyakinan, keteguhan dan kesabaran. Sebab seringkali perubahan itu membutuhkan waktu yang lama, menemukan hambatan yang tidak sedikit dan pilihan yang tidak populer.
Kesabaran kita perlukan karena waktu yang dibutuhkan untuk berubah seringkali lama. Keyakinan kita butuhkan guna mengatasi berbagai hambatan yang muncul, utamanya perasaan tidak nyaman yang muncul dalam diri kita karena memulai kebiasaan-kebiasaan baru.
Sedang keteguhan kita perlukan guna mengatasi komentar orang lain yang tidak mendukung perubahan itu, juga karena ia bukan pilihan yang populer. Bukankah hanya ikan mati yang berenang mengikuti arus?
Langkah selanjutnya segera memulai perubahan itu. Kita harus yakin bahwa hidup kita akan berubah jika kita berubah, bukan saat orang lain yang berubah. Berpikir positif bahwa kita mampu jika kita memang ingin berubah harus kita tanamkan kuat-kuat. Sebab berpikir negatif dan pesimis hakikatnya adalah sabotase terhadap diri kita sendiri.
Jangan lupa, kekuatan berdo’a kepada Allah sebagai modal besar perubahan itu. Bukankah hanya ridha-Nya yang kita inginkan? Bahkan kesadaran berubah itupun muncul saat kita menyadari ada terlalu banyak hal tidak Dia ridhai dalam kehidupan kita, yang karenanya kita ingin berubah? Kita yakin, Dia pasti menolong hambanya-Nya yang bermujahan di jalan-Nya. Bismillah, mari kita coba!


Dosa Versus Taubat

Allah swt menciptakan manusia dalam keadaan fitrah/ suci. Dalam perjalanannya kemudian banyak manusia yang tersesat dan terjerumus dalam jurang kemaksiatan, yang menghasilkan dosa kecil maupun besar.
Dosa-dosa, baik yang sudah diwujudkan dalam kehidupan nyata maupun yang masih terpendam dalam jiwadan perasaannya, sesungguhnya merupakan efek dari tipu daya setan yang mempengaruhi dan menguasai jiwa manusia. Hal ini di karenakan tidak adanya atau kurang kokohnya benteng pertahanan dalam diri manusia itu sendiri. Allah swt berfirman :
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang di beri rahmad oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Shad : 82)
Bila kita telah melakukan perbuatan dosa, maka yang perlu dilakukan adalah sesegera mungkin bertaubat. Allah swt sengaja menyapa hamba-hamba-Nya yang melampaui batas seperti dalam firman-Nya.
“Katakanlah : ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampai batas terhadap terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmad Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Za- Zumat : 53)
Menurut Ibnu Taimiyah dalam kitab “ At –Taubah”, yang di maksud taubat adalah menarik diri dari suatu keburukan dan kembali pada suatu tindakan yang dapat membawa seseorang kepada Allah swt.
Taubat dibedakan menjadi dua macam. Pertama, taubat wajib yaitu taubat dari kemaksiatan. Kedua, taubat sunnah yaitu taubat yang di anjurkan untuk meninggalkan perbuatan yang tidak di sukai (makruh). Bagi siapa yang melakukan taubat jenis pertama, maka ia termasuk orang baik dan adil. Sedangkan bagi yang melakukan kedua jenis taubat tersebut, maka ia termasuk dalam orang yang lebih dahulu masuk jannah dan di dekatkan Allah swt. Sedangkan siapa tidak melakukan taubat jenis pertama, maka ia termasuk orang yang zalim. Yang perlu di catat di sini ialah, kita tidak boleh bertaubat dari kebaikan (berhenti melakukan kebaikan). Maka barangsiapa yang melakukannya dengan sadar, ia termasuk dalam golongan orang-orang yang fasik.
Lalu apakah sama bagi kita bertaubat sekarang dengan bertaubat esok atau lusa?
Allah swt berfirman,
“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkah (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Hadid : 10)

Singkatnya, selama hamba itu bertaubat, memohon ampunan dan menyesali perbuatan (taubat nasuha), maka Allah akan mengampuninya. Maka marilah berlomba-lomba melakukan kebaikan dan segera bertaubat bila terlanjur melakukan kesalahan.Wallahualam.

Suara Dari Kuburan

Hidup adalah untuk beribadah, kita mengerti itu. Kepada Allah saja, tanpa bagi ‘apa atau siapa’ selain-Nya. Sebab dia Esa yang tidak membutuhkan sekutu dalam segala hal. Dia berfirman, “Aku tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan sebuah amalan dengan mempersekutukan selain-Ku padanya, maka amalan itu bagi yang dia persekutukan. Dan Aku berlepas diri daripadanya.” (Hadis Qudsi Ibnu Majah : 4192)
Maka kemudian Dia wajibkan ke keikhlasan sebagai syarat penerimaan amal shalih. Dia inginkan ketaatan dan ketudukan kita yang bersih dan murni. Terbebas dari semua kotoran dan tendensi pembelok arah penghambaan. Dia akan melihat siapa di antara kita yang benar-benar ingin menyembah-Nya. Mempersembahkan amalan terbaik yang paling benar dan paling ikhlas.
Namun, sungguh sulit nian! Sebab tidak ada amalan tanpa niat. Sedang setiap kita ingin, sedang dan telah bertaubat, batin kita selalu berperang. Lezatnya puja-puji, penghargaan- meski sekedar ucapan terimakasih dan penerimaan manusia, sering melenakan kita untuk tergesa mencari hasil dalam beramal. Kemudian kita melakukan amalam riya’ sebab merindu kekuasaan, kedudukan dan harta. Sedang hati kita masih saja penuh penyakit. Terseok-seok memayahkan diri di dunia, sedang akhirat menyediakan siksa.
Alangkah beratnya! Sebab, seperti nasihat Utsman bin ‘Affan, Ikhlas adalah melihat penglihatan Allah dan bukan yang lain. Sedang Allah melihat hati kita, bukan penampilan dan wujud fisik yang menawan. Fudhail bin Iyadh berkata, “Sesungguhnya, yang diinginkan Allah darimu adalah niat dan keinginanmu. “ Sahl bin Abdillah at-Tasturi menyebut ikhlas sebagai amalan yang paling berat. Alasannya, sebab hati tidak mendapatkan bagian.
Ikhlas adalah jalan keselamatan, pembebas hati dari ibadah ritual yang memenjarakan fisik, sebab ia adalahnya ruhnya. Bukankah banyak yang berpuasa dan shalat malam fisik mereka, namun tidak beroleh apa-apa selain lapar, dahaga dan berjaga-jaga? Atau darah-darah dan daging binatang korban yang tidak sampai kepada Allah, meski manusia banyak berdecak menyaksikannya? Sebab yang akan sampai adalah takwa kita, sedang takwa ada di dalam hati!
Hamba yang mengharap ridha Allah, akan melihat manusia lain seperti penghuni kubur yang tidak memberi manfaat dan madharat. Suara-suara mereka kalaulah ada meskinya tidak menakutkan, sehingga mempengaruhi niat awal hamba saat berbuat. Suara-suara yang mungkin menggemakan kebencian. Namun, bukankah Allah telah berfirman, “ Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya,” (Q.S. Al-Mukmin : 14)

Sungguh, keikhlasan adalah rahmad Allah bagi hamba pilihan. Persoalannya, siapa yang akan menyambutnya?